SEKRETARIS Daerah Maluku Barat Daya, Eduard J S Davidz, membuka kegiatan festival tunas bahasa ibu untuk Bahasa Moa, di gedung Serbaguna Tiakur, Sabtu (15/11).
Davidz dalam sambutannya mengatakan, Indonesia memiliki kurang lebih 700 bahasa daerah dan Maluku itu ada 70 dan merupakan urutan keempat dalam jumlah bahasa daerah yang terbesar di negeri kita tercinta sehingga, jika bahasa ini punah maka tentunya saja budaya itu punah.
Dan itu adalah esensi terutama bagaimana festival ini dijalankan agar penutur bahasa ibu ini makin banyak dan bisa tetap melestarikan budaya dan bahasanya sebagai indentitas dan jatidiri suku, marga maupun wilayah tertentu.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Balai Bahasa Provinsi Maluku dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atas inisiatif kegiatan yang luar biasa ini, bahwa tahun ini bahasa Moa yang dipilih,” ucapnya.
Dengan harapan ditahun-tahun yang akan datang bahasa lain yang ada di MBD bisa menjadi bagian dari upaya kita kembali mengangkat bahasa-bahasa lokal sehingga bisa berkembang.
“Langkah ini sangat baik agar kita kembali bangga dengan bahasa daerah kita masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, upaya-upaya revitalisasi bahasa yang dilakukan untuk kembali membudayakan bahas ini bisa kembali digunakan. Memang tantangannya besar tetapi ini menjadi semangat bersama bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan untuk kembali membudayakan bahasa.
“Ada peribahasa yang mengatakan bahwa sedia payung sebelum hujan dan itulah yang kita lakukan agar bahasa-bahasa kita ini menjadi bahasa yang dapat tempat dihati masyarakat kita terutama dikalangan generasi muda sebagai tunas bahasa ibu,” jelasnya.
Dengan harapan kedepan revitalisasi ini akan berkembang. Pemerintah Daerah MBD, tambah Sekda, akan terus berupaya untuk tetap mendukung upaya-upaya ini sehingga bahasa dan budaya MBD tetap lestari dan menjadi bagian dari proses-proses kehidupan kita di masyarakat.
“Kami bangga karena acara melibatkan generasi muda. Generasi muda adalah generasi yang unggul. Harapan kita mendapatkan generasi emas yang akan menjadi tulang punggung. Itu berarti ditangan anak-anak kita yang hari ini berlomba dari 23 sekolah ini, dimana harapan masyarakat MBD untuk melestarikan bahasa ada dipundak anak-anak sekalian,” katanya.
Itu merupakan tugas yang berat, dan bukan saja mereka tapi juga orang tua, guru dan di sekolah maupun komunitas komunitas masyarakat baik di desa, maupun komunitas-komunitas budaya yang ada wilayah MBD.
Dia menambahkan, rangkaian festival ini adalah festival tingkat Kabupaten dan pemenangnya untuk 12 kategori, dimana 6 kategori di tingkat SD dan 6 kategori di tingkat SMP akan mewakili Kabupaten MBD untuk mengikuti festival tunas bahasa ibu tingkat Provinsi.(S-28)