AMBON, Siwalima.id - Gubernur, Hendrik Lewerissa mengatakan, peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di Maluku masih dibawah rata-rata nasional.
Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, lanjut Ketua DPD Gerindra Maluku, justru tahun 2025 dunia pendidikan di Maluku mengalami kemunduran yang luar biasa.
Gubernur bilang, kemunduran dunia pendidikan ini menjadi realita yang tidak perlu diperdebatkan, sebab memang faktanya mutu dan kualitas dunia pendidikan di Maluku masih dibawah rata-rata nasional.
“Dunia pendidikan kita di Maluku mengalami kemunduran yang luar biasa, ini bukan tuduhan yang tidak berdasar tapi ini data fakta ilmiah,” jelas Gubernur saat peresmian perpustakaan di SD 50 Maluku Tengah, Desa Tuhaha, Kecamatan Saparua Timur, Senin (8/12).
Karena gubernur meminta perhatian serius dari semua elemen masyarakat untuk mambantu pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, dengan memastikan anak-anak sekolah memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk menambah ilmu
Mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan, jika Yayasan Heka-Leka menemukan ada siswa di Maluku yang belum tahu baca, maka hal itu merupakan fakta yang tidak perlu dipersoalkan oleh siapapun.
Pemerintah Provinsi Maluku lanjut Gubernur tentu tidak tinggal diam dengan kondisi dunia pendidikan di Maluku dan sebaliknya akan terus mendorong agar ada perbaikan dalam dunia pendidikan di Maluku.
Visi dan misi Gubernur telah menempatkan peningkatan kualitas pendidikan menjadi prioritas tetapi harus didukung dengan kolaborasi antara pemerintah dengan stakeholder lainnya di Maluku.
“Dengan kerja kolaboratif antara semua pihak termasuk Yayasan Heka-Leka maka dunia pendidikan di Maluku pasti akan bangkit karena kita memiliki SDM yang luar biasa, tinggal buat program dan kegiatan langsung yang berdampak pada kemajuan sektor pendidikan di Maluku,” ucap Gubernur.
Upaya memperkuat literasi dengan jalan memperbanyak perpustakaan kata Gubernur menjadi salah satu cara yang efektif untuk merangsang kualitas pendidikan disamping cara-cara lain yang sementara dilakukan Dinas Pendidikan.
Gubernur menegaskan tidak ada cara atau rekayasa sosial yang paling efektif lainnya untuk memutus mata rantai kemiskinan dan pengangguran hanyalah pendidikan. “Coba ada yang bisa challenge gubernur bahwa ada rekayasa sosial yang lebih efektif tanpa pendidikan.
Kita bisa memutus mata rantai kemiskinan mengurangi pengangguran mendorong pembangunan tanpa melalui pendidikan, tidak ada karena memang pendidikan adalah rekayasa sosial itu,” tegas Gubernur.(S-20)