BADAN Penanggulangan Bencana Daerah Kota Ambon terus memperkuat upaya mitigasi bencana melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Selain menyasar warga umum, program tersebut juga difokuskan kepada pelajar, lembaga pendidikan, tempat ibadah, hingga yayasan keagamaan.
Kepala BPBD Kota Ambon, Frits Tatipikalawan mengatakan, sosialisasi kebencanaan selama ini berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari berbagai kalangan.
“Kami lebih banyak melakukan sosialisasi kepada anak-anak sekolah, tempat-tempat ibadah, yayasan Muslim, hingga sekolah pesantren,” kata Tatipikalawan, kepada Siwalima, di Balai Kota Ambon, Senin (8/6).
Menurutnya, hampir seluruh sekolah dasar di Kota Ambon telah menjadi sasaran program edukasi kebencanaan yang dilakukan BPBD.
Langkah ini dinilai penting untuk membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.
Ia menjelaskan, dari sisi pengetahuan, masyarakat sebenarnya sudah cukup memahami risiko bencana dan langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi darurat. Namun tantangan terbesar saat ini adalah mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat.
“Penguatan kapasitas masyarakat dari sisi pengetahuan sudah cukup baik. Yang dibutuhkan sekarang adalah kerja keras untuk mengubah paradigma berpikir dan sikap masyarakat terhadap risiko bencana,” ujarnya.
Menurut Tatipikalawan, keberhasilan program mitigasi dan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kemauan masyarakat untuk mengubah perilaku dan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
“Sebagus apa pun program yang dibuat pemerintah, jika tidak didukung perubahan perilaku masyarakat, maka hasilnya tidak akan maksimal,” tegasnya.
Kedepan, BPBD Kota Ambon berencana memperluas jangkauan sosialisasi kebencanaan ke wilayah Ambon Timur hingga kawasan Leitisel, terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Selain sosialisasi, BPBD juga terus memperkuat penyusunan berbagai dokumen kesiapsiagaan dan rencana respons bencana sebagai pedoman dalam menghadapi kondisi darurat.
“Kami juga menyiapkan berbagai dokumen pendukung, termasuk dokumen kesiapsiagaan dan rencana respons untuk menghadapi bencana, khususnya banjir dan tanah longsor,” jelasnya.
Tatipikalawan berharap edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya sadar bencana di Kota Ambon, sehingga risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan ketika sewaktu-waktu terjadi.(S-30)