SIWALIMA.id > Berita
Warga Porto Demo Tuntut Kejelasan KPN
Daerah , Headline | Selasa, 23 Juni 2026 pukul 15:06 WIT

AMBON, Siwalima.id - Puluhan warga Negeri Porto me­lakukan aksi demonstrasi di Kantor Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Senin (22/6).

Dalam aksi demo yang di koordinir Julius Nanlohy itu, para pendemo mengan­cam akan menyegel kantor negeri, jika dalam wak­tu dua pekan pe­me­rintah kabupaten belum mene­tapkan calon Kepala Pemerintahan Negeri Porto.

Dalam aksi itu, warga Porto Jacob Sa­hertian dalam orasinya menga­ta­kan, persoalan mengenai penetapan Kepala Pemerintahan di Negeri Porto telah berlangsung cukup lama tanpa penyelesaian yang jelas.

Pasalnya, penjabat pemerin­ta­han terus berganti, namun hingga kini belum ada kepastian mengenai penetapan kepala pemerintahan definitif.

“Bahkan mengenai kelanjutan kepemimpinan pejabat sebelum­nya pun sampai hari ini belum ada keje­lasan. Padahal masa jabatan­nya telah berakhir sehingga sudah seha­rusnya ada keputusan yang tegas,” tandas Jacob dalam orasinya.

Ia menegaskan, kehadiran mas­yarakat ke Kantor Camat Saparua bukan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah, melainkan menyampaikan aspirasi secara damai.

Keberadaan pemerintahan defi­nitif sangat dibutuhkan, karena Negeri Porto akan menjadi tuan rumah sejumlah agenda gereja, termasuk Sidang Klasis pada tahun 2027.

“Kami hanya minta kepastian. Kalau memang ada kendala hu­kum ataupun administrasi, sam­paikan secara terbuka kepada mas­yarakat sehingga kami mema­hami proses yang sedang berjalan,” tanya dia.

Ia mengingatkan, agar perso­alan tersebut tidak terus berlarut-larut karena dapat memicu kere­sahan di tengah masyarakat.

“Kepentingan masyarakat jauh lebih besar daripada kepentingan kelompok tertentu. Karena itu kami berharap pemerintah segera me­ng­ambil langkah demi kepenti­ngan seluruh warga Negeri Porto,” tandas Jacob.

Hal senada disampaikan Apong Hattu yang mempertanyakan be­lum adanya penyelesaian terhadap persoalan pemerintahan Negeri Porto, meski telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sehingga Ia minta pemerintah kecamatan mestinya mendengar aspirasi masyarakat dan memastikan se­tiap proses penetapan Raja Negeri Porto memperhatikan kehendak masyarakat.

“Kami datang dengan tertib, bukan untuk membuat keributan. Kami hanya minta kepastian atas kelanjutan pemerintahan Negeri Porto,” ucap Hattu.

Pada kesempatan itu, masya­rakat Porto juga memberikan tenggat waktu selama dua minggu kepada pemerintah untuk mem­berikan kejelasan. Apabila dalam waktu tersebut belum ada penye­lesaian ataupun kepastian, mas­yarakat menyatakan akan kembali menyampaikan aspirasi dengan jumlah massa yang lebih besar bahkan menyegel kantor Negeri Porto.

Usai menyampaikan orasi se­cara bergantian, Koordinator Lapa­ngan Julius Nanlohy kemudian membacakan tujuh tuntutan masyarakat Negeri Porto yang ditujukan kepada Bupati Maluku Tengah.

Tuntutan yakni Pertama, mas­yarakat secara tegas menolak penempatan Pj Pemerintah Negeri Porto dan meminta pemerintah kabupaten segera menetapkan raja atau Kepala Pemerintah Negeri yang definitif.

Kedua, masyarakat minta Bupati Maluku Tengah mencopot Ketua Saniri Negeri Porto karena yang bersangkutan berstatus sebagai seorang ASN yang dinilai tidak diperbolehkan menduduki jabatan tersebut sesuai regulasi yang berlaku.

Ketiga, masyarakat minta Bupati mencopot Camat Saparua karena dinilai gagal menjalankan tata kelola pemerintahan yang bersih, tertib, dan transparan. 

“Masyarakat menilai Camat me­ngabaikan aturan yang melarang ASN menjabat sebagai Ketua Saniri Negeri, tidak maksimal mendorong percepatan proses pemilihan Kepala Pemerintah Negeri Porto, serta melakukan rekrutmen staf pemerintah negeri yang dinilai bukan menjadi ke­wenangannya,” tandas Julius saat membacakan tuntutan.

Selain itu, masyarakat juga me­minta Camat Saparua memerin­tahkan Pj Negeri Porto segera mempersiapkan proses pemilihan Kepala Pemerintah Negeri Porto yang baru.

Kelima, masyarakat memberi­kan tenggat waktu selama dua minggu. Apabila Pj Negeri Porto tidak mempersiapkan calon Ke­pala Pemerintah Negeri Porto, masyarakat menyatakan akan menyegel Kantor Pemerintah Negeri Porto.

Usai mendengar tuntutan mas­yarakat Negeri Porto, Perwakilan Camat Saparua, Mesi Latupeirissa yang menemui massa aksi me­ngaku, apresiasi masyarakat Ne­geri Porto yang telah disampaikan ini akan diteruskan kepada pim­pinan. 

“Kami menerima dengan hormat seluruh aspirasi dan tujuh tuntutan masyarakat Negeri Porto. Selan­jutnya aspirasi tersebut akan kami teruskan kepada pimpinan ke­camatan untuk diproses sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku,” janji Latuperissa.

Ia juga menyampaikan permo­honan maaf, karena Camat Sapa­rua tidak dapat hadir lantaran se­dang menjalankan tugas peme­rintahan yang tidak dapat diting­galkan. Meski begitu, ia memas­tikan pihak kecamatan akan akan mengevaluasi tuntutan masyarakat Negeri Porto.(S-29)

BERITA TERKAIT