AMBON, Siwalimanews – Provinsi Maluku sampai saat ini masih minim dokter spesialis
Pasalnya, jumÂlah dokter spesialis di Maluku baru menÂcapai 206 dokter, diÂmana 109 dokter spesialis memilih berpraktek di Kota Ambon, seÂdangkan 97 terseÂbar di beÂbeÂrapa kaÂbuÂpaÂten/kota.
âMemang kebutuhan SDM khuÂsusnya dokter spesialis itu masih menjadi tantangan bagi kita di Maluku, makanya kami terus berupaya untuk menyiapkan SDM dokter spesialis,â ungkap Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa kepada wartawan di Ambon, Jumat (18/7).
Untuk menyiapkan SDM ini, maka gubernur mendorong FakulÂtas Kedokteran Unpatti, untuk membuka program studi dokter spesialis. Dorongan ini dilakukan gubernur, usai mendapatkan duÂkungan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengÂunjungi Ambon, pada Rabu, (17/7) kemarin.
Menurut gubernur, salah satu upaya yang dapat didorong hanyaÂlah Fakultas Kedokteran Unpatti untuk membuka program pendidiÂkan dokter spesialis, agar tidak lagi harus bersekolah keluar Ambon.
Apalagi, dalam kunjungan ke Ambon, Menteri Kesehatan telah memberikan dukungan, agar FaÂkulÂtas Kedokteran Unpatti memÂbuka pendidikan dokter spesialis.
âTerkait SDM, Fakultas KedokÂteran Unpatti sebenarnya boleh didorong untuk membuka prodi dokter spesialis dan itu sudah dapat dukungan pak Menkes,â ucap gubernur.
Gubernur berkomitmen, akan terus bekerja keras agar ada peÂmerataan dokter spesialis di daerah-daerah, sehingga kedepan derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan.
Kemenkes Bantu
Sebelumnya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, minta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk membantu pemerataan dokter spesialis.
Permintaan ini disampaikan gubernur, di sela-sela groundbreaÂking pembangunan RSUD Buru di Kota Namlea, yang dihadiri Menkes Budi Gunadi Sadikin, Kamis (17/7).
Menurutnya, ada satu sukacita terbesar, sebab Menteri KesehaÂtan melihat sendiri, betapa tidak mudahnya pelayanan kesehatan di daerah kepulauan di Maluku.
âSaya menyampaikan kepada banyak orang di berbagai tempat, kita mensyukuri program quick win ini, tetapi bagi kami sebagai kepala daerah, entah itu gubernur, bupati maupun walikota, kita mensyukuri adanya rumah sakit yang repreÂsenÂtatif,â ungkap gubernur.
Namun, jauh lebih penting kata gubernur, bukan saja rumah sakit yang represntatif tetapi sumber daya manusia yang tidak tersedia secara memadai. Jika mengacu pada rasio standar WHO, dimana pelayanan kesehatan harus satu dokter per seribu orang, maka tentunya ini menjadi masalah, sebab masih sangat banyak dokter yang dibutuhkan di Maluku.
Gubernur menegaskan, salah satu persoalan yang menyebabkan dokter spesialis enggan mengabÂdi Maluku, yakni soal kesejahteÂraan meÂreka yang masih jauh dari haÂrapan.
âKetika rumah sakit saya coba mengetok nurani para dokter spesialis, umum dan paramedis. Saya sampaikan kepada mereka, bahwa betul kesejahteraan adalah satu yang penting, tapi jauh lebih penting adalah soal getaran nurani kita untuk melayani kepentingan masyarakat,â tutur gubernur.
Gubernur mengaku, sebelum menjadi anggota DPR dan guberÂnur, dirinya menyaksikan betapa banyakÂnya warga yang meninggal dunia karena harus dirujuk ke Makassar dengan transportasi laut dan udara, tetapi juga ada yang meninggal.
âFakta ini sangat miris bagi kami. Padahal Maluku adalah salah satu provinsi yang ikut mendirikan bangÂsa Indonesia. Jadi kami minta perÂhatian pemerintah pusat untuk dapat membantu kami, khususnya untuk meningkatkan kesejahteÂraan dokter spesialis,â pinta gubernur.(S-20)