SIWALIMA.id > Berita
Proyek Air Bersih Desa Tounussa Bermasalah
Daerah , Headline | Kamis, 6 November 2025 pukul 14:15 WIT

AMBON, Siwalima.id - Harapan masyarakat Desa Tou­nussa, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat untuk menikmati air bersih yang layak tam­paknya pupus.

Proyek air bersih Pe­nye­di­aan Air Mi­num dan Sani­tasi Ber­basis Masyarakat (Pasimas) yang dibangun dengan anggaran Rp 400 juta dari APBN bermasalah.

Pasalnya, proyek air bersih tersebut sudah tidak berfungsi, padahal baru berjalan kurang dari satu tahun.

Program Pamsimas merupakan pro­gram nasional Kementerian Pe­kerjaan Umum yang bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pem­ba­ngunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), serta pemerintah daerah. 

Tujuannya adalah memperluas akses masyarakat pedesaan ter­hadap air minum dan sanitasi la­yak, sekaligus mendorong parti­sipasi warga dalam pengelolaan sumber air secara berkelanjutan.

Namun, di Desa Tounussa, realisasi program tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar. 

Warga mengeluhkan, air tidak lagi mengalir ke rumah-rumah penduduk. Sumber air yang sebe­lumnya menjadi tumpuan kebu­tuhan sehari-hari kini terhenti total.

“Awalnya kami senang karena tidak perlu lagi susah payah mencari air. Tapi belum lama ber­jalan, air berhenti mengalir. Seka­rang sama saja seperti dulu,” ungkap salah satu warga yang enggan disebut namanya.

Warga menduga proyek tersebut dikerjakan tanpa pengawasan ketat dan tidak sesuai dengan spe­sifikasi teknis dalam perencanaan. Ada pula yang menilai kualitas material yang digunakan tidak me­menuhi standar sehingga instalasi mudah rusak.

Menanggapi kondisi itu, tokoh masyarakat Desa Tounussa, Harun Matayane, kepada Siwalima, Rabu (5/11) melalui sambungan WhatsAppnya mendesak aparat penegak hukum tidak tinggal diam. 

Menurutnya, proyek yang meng­gunakan uang rakyat harus diper­tanggungjawabkan secara trans­paran, baik dari segi pelaksanaan maupun hasilnya.

“Saya meminta kepada penegak hukum, baik kepolisian maupun kejaksaan di Kabupaten Seram Bagian Barat, agar tidak tutup mata dan segera memanggil kontraktor serta pemegang proyek ini untuk dilakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh,” tegas Harun.

Lebih lanjut Harun menilai, per­soalan seperti ini tidak boleh di­biarkan berlarut-larut karena berpotensi menimbulkan kerugian negara dan merusak kepercayaan publik terhadap program peme­rintah pusat. 

Ia menegaskan perlunya audit lapa­ngan untuk memastikan ke­mana anggaran proyek tersebut benar-benar digunakan, serta apa­kah ada unsur kelalaian, penyim­pa­ngan, atau kesengajaan yang me­nye­babkan proyek gagal berfungsi.

“Ini uang negara. Setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawab­kan. Kalau memang ada pelang­garan dalam pelaksanaan proyek, maka kontraktor maupun pihak yang bertanggung jawab harus diproses hukum sesuai aturan,” tandasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun instansi pelaksana belum memberikan tanggapan resmi. 

Sementara itu, masyarakat Desa Tounussa berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas PUPR dan Inspektorat Kabupaten Seram Bagian Barat, segera turun ke lo­kasi untuk melakukan pemerik­saan teknis dan administratif.

Kegagalan proyek air bersih di Tounussa menjadi cerminan lemah­nya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek infrastruktur di daerah. 

Program yang seharusnya menjadi solusi atas kesulitan warga justru berakhir menjadi monumen pemborosan anggaran.

“Kami butuh air bersih, bukan papan nama proyek. Kami hanya ingin apa yang dijanjikan benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” cetusnya. (S-26)

BERITA TERKAIT