AMBON, Siwalima.id - Plh Sekda Maluku, Kasrul Selang memastikan stok bahan pokok menjelang natal dan tahun baru tahun 2026 aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Menurut juru bicara Pemprov Maluku ini, berdasarkan data yang dimiliki pemprov Maluku, dapat dipastikan stok bahan pokok cukup selama perayaan Natal dan Tahun Baru nantinya.
Walaupun data yang ada dikatakan aman lanjut Kasrul, namun pihaknya terus melakukan pengawasan secara intensif terhadap kondisi pasar, baik itu di pasar tradisional maupun modern, untuk memastikan stok bahan pokok tersedia dan mudah dijangkau.
“Stok pangan kita jelang Nataru aman, bahkan hingga 3 bulan kedepan dengan pasokan dari vendor setiap 3-7 hari, sedangkan ketersediaan komoditas strategis holtikultura juga aman,” ucap Kasrul kepada wartawan di Kantor Gubernur, Selasa (2/12)
Kasrul mencontohkan, komoditas hortikultura seperti bawang merah masih tersedia kurang lebih 335,84 ton, cabai rawit 3.407,96 ton, cabai keriting 1.297,9 ton, stok ikan juga masuk kategori aman sebanyak 457.984,16 ton dan stok perternakan juga masuk kategori aman.
Disamping itu, pemerintah provinsi juga akan melakukan program Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan sebanyak 32 kegiatan regular dan 22 kegiatan mobile guna menekan kenaikan harga pangan di lapangan.
“Pemerintah provinsi juga terus mendorong pemerintah kabupaten/kota agar fokus utama pada indikator strategis yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif (4K),” ungkap Kasrul.
Empat indikator tersebut menurut Kasrul, harus diperhatikan setiap kabupaten/kota menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, sebab jika strategi 4K diterapkan secara konsisten, maka dipastikan tidak terjadi lonjakan harga yang membebani masyarakat, termasuk memperkuat kerjasama antar daerah terkait komoditas pangan strategis.
“Kita sudah berkoordinasi agar jika satu daerah mengalami defisit pangan, maka daerah lain yang mengalami surplus harus membantu, sehingga kelangkaan bisa diantisipasi dan harga tetap stabil,” beber Kasrul.
Selain itu kata Kasrul, penguatan rantai pasok juga menjadi faktor kunci, dimana daerah pemasok pangan wajib memastikan produksi berjalan baik, sedangkan pemerintah, harus memastikan distributor ke wilayah yang sulit dijangkau berjalan normal.
Kendala distribusi pangan terbesar yang dihadapi Maluku yaitu, sangat tergantung pada transportasi laut, apalagi tol laut belum menjangkau semua daerah, akibatnya harga barang bisa melonjak ketika sampai di masyarakat.
Kondisi ini berpengaruh pada efektivitas komoditas antar pulau yang kadang ada daerah yang surplus pangan, tetapi tidak dijangkau, sementara daerah yang dijangkau justru tidak siap produksi, artinya kapal bisa sampai di pelabuhan tanpa muatan balik akan menimbulkan kerugian bagi operator kapal tersebut.
“Pemprov mendorong kabupaten/kota untuk memperkuat perencanaan produksi pangan dan meningkatkan kapasitas daerah agar dapat mengoptimalkan program tol laut, sehingga rantai pasok tidak terganggu dan kita juga minta masyarakat agar tidak perlu khawatir dengan informasi hoaks seolah-olah akan terjadi kelangkaan bahan pokok,” tandas Kasrul. (S-20)