AMBON, Siwalima.id - Intensitas hujan yang tinggi pada akhir pekan kemarin mengakibatkan sejumlah lokasi di Kota Ambon mengalami bencana longsor dan mengancam rumah warga,
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, tercatat satu rumah di kawasan BTN Gadihu Indah, Kebun Cengkeh, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau ambruk dan terseret ke jurang, sementara belasan rumah lainnya terancam.
Kepala BPBD Kota Ambon, Frits Tatipikalawan mengungkapkan, berdasarkan data di lapangan terdapat 10 rumah warga yang terdampak longsor di Kawasan BTN Gadihu dan sisanya pada lokasi lainnya.
“Dari data kita di lapangan, ada 10 rumah yang terdampak. Satu rumah langsung terseret ke jurang dan sembilan rumah mengalami kerusakan,” beber Frits kepada Siwalima, Sabtu (9/5).
Menurutnya, rumah yang terseret longsor jatuh hingga sekitar 15 sampai 20 meter ke jurang bersama barang-barang milik penghuni rumah. Meski demikian, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
“Tidak ada korban jiwa, hanya saja rumah tersebut hancur. Sementara rumah warga yang rusak juga sangat terancam untuk ditempati,” ucap Frits.
Selain merusak rumah warga kata Frits, longsor juga menyebabkan akses jalan di kawasan perumahan tersebut amblas, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat setempat.
Tim BPBD Kota Ambon bersama Dinas Sosial Kota Ambon telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan identifikasi, pendataan korban terdampak, serta langkah-langkah penanganan darurat.
“Kita identifikasi lokasi, kita cek keluarga yang terdampak ada 53 jiwa. Berikutnya kita koordinasi dengan Dinas Sosial, Dinas PU, dan PLN untuk penanganan serta antisipasi lebih lanjut,” jelas Frits.
BPBD juga telah mendirikan tenda darurat bagi warga terdampak dan menyiapkan bantuan makanan siap saji. Selain itu, koordinasi dengan pihak PLN dilakukan untuk pemadaman aliran listrik demi menghindari risiko yang lebih besar.
Ia menghimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan longsor dan bencana, agar meningkatkan kewaspadaan, mengingat cuaca buruk masih berpotensi terjadi di Kota Ambon.
“Kami himbau warga agar menjaga lingkungan tempat tinggalnya dengan baik. Jika kondisi lingkungan sudah rawan dan tidak memungkinkan untuk dihuni, sebaiknya mengungsi sementara demi keselamatan,” himbau Frits.
Wilayah Lainnya
Tatipikalawan juga mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima Pusdalops, bencana alam yang dialami mencakup tanah longsor, pohon tumbang dan anacaman longsor pada sejumlah lokasi
Dia menyebutkan, tanah longsor terjadi di Lembah Argo, RT 060/013 Desa Passo, Kecamatan Baguala pada, Jumat (8/5) sekitar pukul 04.00 WIT.
Longsor tersebut mengakibatkan kerusakan ringan pada bagian dapur dan kamar mandi rumah milik keluarga Dominggus Anthony.
Selain itu, cuaca ekstrem juga menyebabkan pohon durian tumbang di Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Lateri, Kecamatan Sirimau sekitar pukul 08.00 WIT. Pohon tersebut menimpa bagian belakang rumah milik keluarga Alan Adriaansz, sehingga menyebabkan kerusakan sedang pada dapur, kamar mandi, dan ruang makan.
BPBD juga menerima laporan ancaman longsor di kawasan Batu Gajah, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau akibat tingginya intensitas hujan. Ancaman serupa terjadi di Lorong Tebok, Galunggung, Negeri Batu Merah serta di belakang Gedung SD Muhammadiyah 2 Ambon di Desa Waiheru, Kecamatan Teluk Ambon.
Kejadian longsor lainnya dilaporkan terjadi di kawasan Skip Dalam, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau pada pukul 03.00 WIT. Material longsor merusak bagian belakang rumah milik keluarga Lerry Patiasina dengan kategori rusak ringan.
Sementara itu, longsor yang cukup parah terjadi di kawasan BTN Gadihu Residence, Jalan Ahuru No.2, Negeri Batu Merah, Kecamatan Sirimau sekitar pukul 15.30 WIT. Longsor di kompleks perumahan warga tersebut mengakibatkan dua unit rumah mengalami rusak berat, tiga unit rusak sedang, serta tiga unit rusak ringan.
Berdasarkan informasi peringatan dini cuaca dari BMKG, wilayah Kota Ambon masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang di sejumlah kecamatan seperti Sirimau, Baguala, Nusaniwe, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan.
Dihimbau kepada masyarakat Kota Ambon agar tetap waspada karena kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu,” himbau Frits.
Berdasarkan data BPBD kata Frits, mencatat sebanyak 53 jiwa terdampak dan mengungsi akibat bencana tersebut. Kerusakan yang terjadi meliputi dua unit rumah rusak berat, empat unit rusak sedang, dua unit rusak ringan, serta tujuh unit rumah terancam. Infrastruktur jalan di kawasan BTN Gadihu Residence juga turut terdampak.
Dalam penanganan bencana, BPBD Kota Ambon melakukan diseminasi informasi melalui media sosial, koordinasi dengan BMKG terkait prakiraan cuaca dan peringatan dini, serta meninjau langsung lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak.
“BPBD juga berencana mendirikan tenda pengungsian bagi warga terdampak longsor di BTN Gadihu Residence yang sementara mengungsi di rumah keluarga dan tetangga terdekat. Selain itu, kebutuhan makanan bagi korban pengungsi akan dibantu oleh Dinas Sosial Kota Ambon,” ujar Frits.
Sementara prakiraan cuaca lanjut Frits, kondisi cuaca di Kota Ambon masih didominasi hujan ringan dengan suhu berkisar 24-28 derajat celsius, kecepatan angin 15 kilometer per jam, serta kelembapan udara mencapai 89-96 persen
Tanggung Jawab Pengembang
Tatipikalawan menegaskan, kerusakan bangunan yang terjadi di kawasan BTN Gadihu merupakan tanggung jawab developer/pengembang dan bukan bukan pemerintah.
Dia bilang, hal pertama yang menjadi acuan adalah status legalitas bangunan.
“Ini tidak segampang itu. Pertama, apakah bangunan ini memiliki IMB? Jika belum ada IMB, tentu pemerintah tidak dapat memberikan ganti rugi. Ganti rugi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengembang,” ucapnya.
Dikatakan, rumah-rumah di kawasan tersebut dibeli masyarakat melalui sistem cicilan. Adanya klausul dalam perjanjian pembelian mengatur tanggung jawab, apabila bangunan mengalami kerusakan atau ambruk dalam kondisi tertentu.
“Karena itu, jika terjadi kerusakan tanggung jawab tetap ada di pundak pengembang, ditambah lagi, walikota telah menyatakan belum ada penyerahan aset kawasan ini kepada pemerintah, sehingga pemerintah belum berwenang melakukan pembangunan kembali bangunan ini,” tandas Frits.
Meskipun tidak bertanggung jawab atas kerusakan bangunan, pemerintah tetap hadir memberikan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak.
Pemerintah semula menyiapkan tenda pengungsian untuk 49 jiwa, namun warga lebih memilih tinggal bersama keluarga terdekat.
“Sejak tadi malam, kami bersama Dinas Sosial sudah menyalurkan bantuan makanan siap saji, kasur, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini akan terus diberikan selama 4 hingga 5 hari ke depan, dan dapat diperpanjang hingga 14 hari jika status siaga darurat ditetapkan,” jelasnya.
Penetapan status siaga darurat lanjutnya, memiliki kriteria khusus, salah satunya adanya pengungsi yang menempati tempat pengungsian resmi.
Nmaun karena warga memilih tinggal bersama kerabat, status tersebut belum bisa ditetapkan saat ini. Meski begitu, bantuan tetap disalurkan melalui kerja sama dengan Dinas Sosial Kota maupun Provinsi Maluku.
Langkah selanjutnya yang akan dilakukan adalah, pembersihan lokasi longsor agar kawasan tersebut aman dan tidak menimbulkan bahaya tambahan bagi warga sekitar.
BMKG Warning
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon mengeluarkan pembaruan peringatan dini cuaca untuk wilayah Maluku, Sabtu (10/5) pukul 11.45 WIT.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon, Kamari menyampaikan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi mulai pukul 12.00 WIT di sejumlah wilayah di Maluku.
“Wilayah yang diperkirakan terdampak antara lain Kabupaten Maluku Tengah meliputi Seram Utara, Leihitu, Nusa Laut, Leihitu Barat, Telutih, Seram Utara Timur Seti, dan Seram Utara Timur Kobi,” ujar Kamari dalam rilisnya, Minggu (10/5).
Selain itu, cuaca serupa juga berpotensi terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, yakni Bula, Werinama, Siwalalat, Kilmury, dan Bula Barat.
Peringatan dini juga mencakup Kabupaten Kepulauan Aru seperti Aru Tengah, Aru Utara, Aru Utara Timur Batuley, Sir-Sir, Aru Tengah Timur, Aru Tengah Selatan, dan Aru Selatan Timur.
Sementara itu, di Kabupaten Buru Selatan potensi hujan lebat diperkirakan terjadi di Kecamatan Kepala Madan.
“Adapun di Kota Ambon, wilayah yang diprediksi terdampak yakni Nusaniwe, Sirimau, Baguala, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan,”katanya.
Ia menyebutkan, kondisi cuaca tersebut berpotensi meluas ke sejumlah daerah lain, di antaranya Amahai, Teon Nila Serua, Banda, Tehoru, Saparua, Pulau Haruku, Salahutu, Kota Masohi, dan Saparua Timur di Kabupaten Maluku Tengah.
Potensi perluasan juga diperkirakan terjadi di Kabupaten Buru, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, serta sejumlah wilayah lain di Kabupaten Buru Selatan.
“Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga pukul 15.00 WIT,”katanya.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir genangan, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan aktivitas pelayaran akibat cuaca buruk. (S-30/S-25)