TULISAN pendek ini dipersembahkan kepada almarhum Robert Souhally, S.H., M.H., salah satu yang pada masa mudanya, bersama banyak pemuda, pelajar, dan mahasiswa AluneâWemale di bawah Koordinator Ketua Ikatan Keluarga SaÂpalewa Ambon, Drs Eduard Makaruku, berjuang dengan darah dan air mata mempertaÂhankan hutan damar (agatis) yang akan dikelola PT Jayanti Group Waisarisa. Robert SouÂhally, biasa disapa Roby, telah mengakhiri perjuanganÂnya di dunia fana ini pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, di RST Latumeten Ambon. Kita doakan almarÂhum tenang di sisi Allah Bapa. Amin.
Di kedalaman hutan Pulau Seram, kabut pagi masih menyelimuti puncak-puncak pohon damar yang menjulang. Di antara gemerisik daun dan kicauan kasturi Seram yang sesekali terdengar, Bapak Fredy Laamena dengan penuh perhatian memeriksa torehan pada batang pohon damar raksasa. Getah bening yang mengÂkristalââemas hijauâ masyarakat Seram Bagian Baratâberkilau diterpa sinar matahari pagi yang menembus kanopi hutan.
Ini adalah ritual harian yang telah turun-temurun, namun kini membawa makna baru. Setiap tetes getah damar bukan lagi sekadar komoditas biasa, melainkan jembatan menuju kemakmuran berkeÂlanjutan. Berkat penanganan dan branding yang baik oleh Koperasi Hijau Seram yang dipimpin Bapak Fredy, kopal berkuaÂlitas premium ini mampu mencapai harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Dengan potensi proÂduksi rata-rata 200 kg per pohon per tahun, setiap tegaÂkan damar telah menjadi aset produktif yang menjamin masa depan.
Di bawah naungan pohon-pohon damar yang berusia puluhan tahun, sistem agroforestri menciptaÂkan mosaik kehidupan yang harmonis. Kopi, cengkeh, dan tanaman pangan tumbuh subur di lantai hutan, membentuk ekosistem yang produktif sekaligus menÂjaga kelestarian alam. Lanskap ini menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Pulau Seramâseperti kakatua Seram, kuskus, kasturi Seram, kasturi kepala hitam, kasturi raja, nuri bayan, burung taong-taong, rusa, soa-soa layar, hingga burung kasuariâyang menemukan rumah aman di antara rimbunnya hutan damar.
âKami menyadari, hutan yang lestari adalah masa depan anak cucu kami,â ujar Bapak Fredy, sambil meÂnatap pohon damar yang sudah menghidupi keluargaÂnya selama tiga generasi. âSetiap keping getah damar yang kami panen adalah bukti bahwa ekonomi dan kelestarian bisa berjalan beriringan.â
Kesejahteraan ekonomi yang meningkat dari hasil damar menciptakan insentif terkuat bagi masyarakat untuk menjaga hutan. Mereka pun bertransformasi menjadi âpanglima-panglima kecilâ yang dengan penuh kebanggaan berpatroli mengamankan kawasan dari berbagai ancaman. Koperasi Hijau Seram tidak hanya berperan sebagai pengumpul hasil damar, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan yang mengelola dana untuk patroli hutan, pendidikan, dan kesehatan warga.
Setiap jengkal hutan damar memiliki penjaganya sendiri. Para pemuda secara bergiliran melakukan patroli, sementara kaum perempuan terlibat aktif dalam proses sortir dan pengemasan getah damar. Inilah model konservasi yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan, di mana masyarakat menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan.
Meskipun pembangunan Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa masih baru dalam tahap perencaÂnaan, masyarakat penyadap damar telah mempersiapÂkan diri menyambut era baru. Mereka memimpikan suatu hari nanti, jalan akses menuju pusat-pusat proÂduksi damar dapat dibangun, mempersingkat perjalanan yang kini masih memakan waktu berjam-jam melalui medan berat.
âKami berharap suatu saat nanti, getah damar berkualitas tinggi ini bisa langsung menembus pasar internasional tanpa melalui banyak peranÂtara,â impian Bapak Fredy. âDengan sistem agroforestri yang kami jalankan, kami sudah membuktikan bahwa hutan yang produktif adalah hutan yang terjaga.â
Di tengah gemanya pembangunan yang akan datang, hutan damar Seram Bagian Barat tetap tegak berdiri sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Setiap tetes getah damar adalah cerita tentang warisan moyang-moyang yang dilestarikan, tentang masyarakat yang mandiri, dan tentang komitmen menjaga keanekaÂragaman hayati untuk generasi mendatang.
Inilah jalan menuju kemakmuran sejatiâdi mana hutan tetap rimbun, satwa terlindungi, dan masyarakat sejahteraâsemua bersinergi dalam irama alam yang abadi. Potensi yang luar biasa dan telah menghidupi masyarakat di Pulau Seram, khususnya suku Alune dan Wemale, inilah yang mendorong semangat anak muda AluneâWemale ketika PT Jayanti mulai mengÂeksploitasi pohon damar atau agatis untuk plywood di Waisarisa. Maka para pemuda di bawah koordinasi Bung Eduard Makaruku bergerak melawan, dan walau harus menerima pukulan dan ancaman, akhirnya mereka berhasil. Sekarang, yang menjadi tantangan bagi generasi AluneâWemale adalah terus berjuang mempertahankan sumber daya alam ini, bukan sekadar nilai ekonominya, tetapi juga identitas budaya. (Nataniel Elake, Pengamat Kebijakan Publik)