SIWALIMA.id > Berita
Menjaga Warisan, Merajut Kemakmuran: Kisah Damar dari Hutan Nusa Ina
Opini | Senin, 13 Oktober 2025 pukul 22:21 WIT

TULISAN pendek ini dipersembahkan kepada almarhum Robert Souhally, S.H., M.H., salah satu yang pada masa mudanya, bersama banyak pemuda, pelajar, dan mahasiswa Alune–Wemale di bawah Koordinator Ketua Ikatan Keluarga Sa­palewa Ambon, Drs Eduard Makaruku, berjuang dengan darah dan air mata memperta­hankan hutan damar (agatis) yang akan dikelola PT Jayanti Group Waisarisa. Robert Sou­hally, biasa disapa Roby, telah mengakhiri perjuangan­nya di dunia fana ini pada hari Jumat, 10 Oktober 2025, di RST Latumeten Ambon. Kita doakan almar­hum tenang di sisi Allah Bapa. Amin.

Di kedalaman hutan Pulau Seram, kabut pagi masih menyelimuti puncak-puncak pohon damar yang menjulang. Di antara gemerisik daun dan kicauan kasturi Seram yang sesekali terdengar, Bapak Fredy Laamena dengan penuh perhatian memeriksa torehan pada batang pohon damar raksasa. Getah bening yang meng­kristal—“emas hijau” masyarakat Seram Bagian Barat—berkilau diterpa sinar matahari pagi yang menembus kanopi hutan.

Ini adalah ritual harian yang telah turun-temurun, namun kini membawa makna baru. Setiap tetes getah damar bukan lagi sekadar komoditas biasa, melainkan jembatan menuju kemakmuran berke­lanjutan. Berkat penanganan dan branding yang baik oleh Koperasi Hijau Seram yang dipimpin Bapak Fredy, kopal berkua­litas premium ini mampu mencapai harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Dengan potensi pro­duksi rata-rata 200 kg per pohon per tahun, setiap tega­kan damar telah menjadi aset produktif yang menjamin masa depan.

Di bawah naungan pohon-pohon damar yang berusia puluhan tahun, sistem agroforestri mencipta­kan mosaik kehidupan yang harmonis. Kopi, cengkeh, dan tanaman pangan tumbuh subur di lantai hutan, membentuk ekosistem yang produktif sekaligus men­jaga kelestarian alam. Lanskap ini menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Pulau Seram—seperti kakatua Seram, kuskus, kasturi Seram, kasturi kepala hitam, kasturi raja, nuri bayan, burung taong-taong, rusa, soa-soa layar, hingga burung kasuari—yang menemukan rumah aman di antara rimbunnya hutan damar.

“Kami menyadari, hutan yang lestari adalah masa depan anak cucu kami,” ujar Bapak Fredy, sambil me­natap pohon damar yang sudah menghidupi keluarga­nya selama tiga generasi. “Setiap keping getah damar yang kami panen adalah bukti bahwa ekonomi dan kelestarian bisa berjalan beriringan.”

Kesejahteraan ekonomi yang meningkat dari hasil damar menciptakan insentif terkuat bagi masyarakat untuk menjaga hutan. Mereka pun bertransformasi menjadi “panglima-panglima kecil” yang dengan penuh kebanggaan berpatroli mengamankan kawasan dari berbagai ancaman. Koperasi Hijau Seram tidak hanya berperan sebagai pengumpul hasil damar, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan yang mengelola dana untuk patroli hutan, pendidikan, dan kesehatan warga.

Setiap jengkal hutan damar memiliki penjaganya sendiri. Para pemuda secara bergiliran melakukan patroli, sementara kaum perempuan terlibat aktif dalam proses sortir dan pengemasan getah damar. Inilah model konservasi yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan, di mana masyarakat menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan.

Meskipun pembangunan Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa masih baru dalam tahap perenca­naan, masyarakat penyadap damar telah mempersiap­kan diri menyambut era baru. Mereka memimpikan suatu hari nanti, jalan akses menuju pusat-pusat pro­duksi damar dapat dibangun, mempersingkat perjalanan yang kini masih memakan waktu berjam-jam melalui medan berat.

“Kami berharap suatu saat nanti, getah damar berkualitas tinggi ini bisa langsung menembus pasar internasional tanpa melalui banyak peran­tara,” impian Bapak Fredy. “Dengan sistem agroforestri yang kami jalankan, kami sudah membuktikan bahwa hutan yang produktif adalah hutan yang terjaga.”

Di tengah gemanya pembangunan yang akan datang, hutan damar Seram Bagian Barat tetap tegak berdiri sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. Setiap tetes getah damar adalah cerita tentang warisan moyang-moyang yang dilestarikan, tentang masyarakat yang mandiri, dan tentang komitmen menjaga keaneka­ragaman hayati untuk generasi mendatang.

Inilah jalan menuju kemakmuran sejati—di mana hutan tetap rimbun, satwa terlindungi, dan masyarakat sejahtera—semua bersinergi dalam irama alam yang abadi. Potensi yang luar biasa dan telah menghidupi masyarakat di Pulau Seram, khususnya suku Alune dan Wemale, inilah yang mendorong semangat anak muda Alune–Wemale ketika PT Jayanti mulai meng­eksploitasi pohon damar atau agatis untuk plywood di Waisarisa. Maka para pemuda di bawah koordinasi Bung Eduard Makaruku bergerak melawan, dan walau harus menerima pukulan dan ancaman, akhirnya mereka berhasil. Sekarang, yang menjadi tantangan bagi generasi Alune–Wemale adalah terus berjuang mempertahankan sumber daya alam ini, bukan sekadar nilai ekonominya, tetapi juga identitas budaya. (Nataniel Elake, Pengamat Kebijakan Publik)

BERITA TERKAIT