SIWALIMA.id > Berita
Indonesia Aktif, Energi Kinetik Bangsa melalui Olahraga
Opini | Jumat, 12 Juni 2026 pukul 13:13 WIT

SEBAGAIMANA telah diwartakan melalui berbagai media massa secara nasional, pada Mei 2026, Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) memperkenalkan program Indonesia Aktif sebagai gerakan nasional untuk mendorong 'gaya hidup sehat dan aktif yang berkelanjutan'. Program itu sebagai payung dari kegiatan KORMI yang diharapkan bisa menyentuh langsung ke stakeholder paling bawah, yaitu masyarakat. Indonesia butuh aktif bergerak agar selalu memiliki 'energi kinetik' mumpuni untuk pembangunan berkelanjutan.

Terdapat berbagai hal esensial yang perlu didukung berbagai pihak agar perencanaan program Indonesia Aktif bukan hanya menumbuhkan kemajuan secara internal dalam lingkup olahraga masyarakat, melainkan juga secara eksternal-sistemis justru diharapkan memberikan 'energi kinetik' sekaligus 'energi potensial' untuk kebangkitan bangsa melalui olahraga. Seiring dengan transformasi olahraga masyarakat untuk mengelaborasi fungsi luas olahraga bagi pembangunan pembangunan bangsa.

ENERGI DAN REAKSI FUSI YANG MEMBANGKITKAN

Olahraga masyarakat melalui Program Indonesia Aktif 2026 diformulasikan sebagai mesin pembangkit 'energi kinetik', yakni merupakan energi yang tercipta oleh 'benda yang bergerak'. Besarnya energi ber­banding lurus dengan massa benda dan juga kecepatannya (energi kinetik = ½ m.v2). Bagaimana penjelasan konkretnya?

Pertama, Indonesia bangsa yang memiliki man power yang besar. Dengan jumlah penduduk 280 juta lebih, Indonesia menempati urutan negara ke-4 di dunia yang memiliki penduduk terbanyak. Ibarat sebuah benda, Indonesia ialah benda yang memiliki berat/massa yang besar. Massa yang besar akan menciptakan energi kinetik yang besar jika memiliki kecepatan yang tinggi. Artinya sesuatu yang besar itu akan sangat berenergi jika memiliki kecepatan. Sebaliknya akan menjadi 'beban' bila cuma diam statis. Kecepatan itu ada jika sebuah benda bergerak atau digerakkan.

Manifestasi gerak memiliki nilai secara komprehensif dan simultan. Artinya gerak olahraga itu terjadi dalam cakupan komplet secara fisik, mental, dan sosial. Gerak secara fisik menjadi trigger pada cakupan yang lain. Sayangnya dari hasil survei Standford University (2023), Indonesia masih tergolong sebagai negara yang malas bergerak. Parameter sederhananya ialah rata-rata langkah kaki per hari masih berada di bawah 3.500.

Kedua, energi potensial dijelaskan sebagai energi yang dimiliki suatu benda/massa karena posisi ketinggiannya. Besarnya energi potensial berbanding lurus dangan massa, ketinggian dan besarnya gravitasi (energi potensial = m.g.h). Indonesia yang memiliki man power yang besar berpotensi memiliki energi potensial yang besar. Jika gravitasi dianggap konstan (9,8 m/detik, pertanyaan kritisnya ialah seberapa tinggi olahraga selama ini sudah ditempatkan.

Diperlukan sebuah desain untuk meletakkan olahraga masyarakat di posisi tinggi yang seharusnya. Dikaitkan dengan gaya hidup budaya sehat aktif sekaligus menjadi ranah penting untuk tujuan global berkelanjutan. Berkelanjutan menjadi urusan yang penting karena dituntut 'tidak boleh ada yang tertinggal' (no one left behind) dalam aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Jika olahraga sudah berada pada ketinggian yang optimal, akan memiliki energi potensial baru yang lebih besar.

Ketiga, terdapat kebutuhan permanen 'reaksi fusi' antarlingkup olahraga masyarakat, olahraga pendi­dikan, dan olahraga prestasi. Program Indonesia Aktif setidaknya sedang mencoba menciptakan pintu penghubung, yakni memastikan budaya olah­raga meningkat dari tahun ke tahun, Program pencarian bakat dan talenta olahraga pada pelajar secara masif. Literasi fisik (physical literacy) masyarakat melalui berbagai event berbasis komunitas olahraga. 

Olahraga tradisional 'naik pamor' dan disandingkan dengan sport industry dan sport tourism. Propaganda gaya hidup sehat aktif dan penyelamatan lingkungan dalam kegiatan car free day (CFD).

AKTIF DAN BERKELANJUTAN

Hukum kekekalan energi menyatakan 'energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, diperlukan bentuk energi tertentu untuk menghasilkan energi dalam bentuk lain'. 

Fungsi-fungsi 'reservoir' pembangkit energi mutlak diperlukan untuk menghasilkan energi baru yang terbarukan. Program nasional untuk menjadikan bangsa yang aktif bergerak merupakan formula yang memang harus selalu diperbarui dan beradaptasi cepat dengan orientasi kebangkitan bangsa, serta aneka isu global kekinian.

Pertama, pemerintah bersama DPR telah merevisi UU Nomor 3/ 2005 tentang Sistem Keolahragaan Na­sional menjadi UU Nomor 11/ 2022 tentang Keolah­ragaan. Salah satu isi revisi yang sangat 'monumental' ialah mengubah nomenklatur olahraga rekreasi menjadi olahraga masyarakat. 

Bukan sekadar perubahan frasa, melainkan juga berupa perluasan mandat, bahwa olahraga yang dimaksudkan bukan sebatas 'pengisi waktu luang', melainkan juga berurusan dengan penguatan energi kinetik bangsa melalui olahraga.

Terdapat perluasan mandat olahraga masyarakat, meliputi (1) membudayakan aktivitas fisik; (2) me­num­buhkan kegembiraan; (3) mempertahankan, memu­lihkan, dan meningkatkan kesehatan serta kebu­garan tubuh; (4) membangun hubungan sosial; (5) melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional; (6) mempererat inte­raksi sosial yang kondusif dan memperkukuh keta­hanan nasional; dan (7) meningkatkan produktivitas ekonomi nasional.

Kedua, olahraga masyarakat telah memiliki tombol 'pemantik energi kebangkitan' yang berurusan dengan nilai keberlanjutan (sustainable development goals/ SDGs). Lingkup olahraga masyarakat memoderasi, merawat, dan menumbuhkan budaya olahraga. Memiliki fungsi akselerasi utama untuk mewujudkan angka partisipasi, nilai kebugaran, kegembiraan dan kohesivitas sosial, serta usaha pelestarian lingkungan hidup. Olahraga masyarakat berpotensi menjadi wadah besar berkelanjutan dalam memberikan multiplier effect industri olahraga dan sport tourism untuk menumbuhkan ekonomi nasional berbasis olahraga.

Ketiga, Program Indonesia Aktif mengarah ke aksi nasional untuk penguatan intangible asset (aset nonmateri) pembangunan dan aneka nilai patriotik. Salah satu bukti nyata ialah dengan menekan prevalensi penyakit tidak menular (PTM). Diperlukan formula olahraga masyarakat yang menggencarkan gaya hidup sehat aktif produktif berkelanjutan untuk menekan dan meminimalkan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pemerintah. Mengurangi beban ekonomi secara signifikan ialah esensi patriotik, melengkapi nilai patriotik dan kebanggaan yang ditunjukkan para atlet yang mengharumkan bangsa melalui torehan prestasi berkelas dunia.

Keempat, berharap Indonesia Aktif menjadi formula yang mewadahi dan memuliakan olahraga tradisio­nal. Olahraga dan permainan tradisional harus se­gera naik kelas. Memang faktanya memiliki nilai pros­pek akan masa depan olahraga yang berperspektif luas secara fisik, mental, sosial, dan kultural. Olahraga tradisional sebenarnya ia 'instrumen’ yang menjembatani pergulatan proses panjang bangsa yang 'terus menjadi'. Artinya, olahraga tradisional adalah bentuk energi renewable dalam perspektif besar pembangunan bangsa melalui olahraga. Optimisme itu selalu ada untuk dipelihara agar tekad menjadi bangsa yang berenergi terwujud. Oleh: Agus Kristiyanto, Guru Besar Sports Policy dari FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dewan Penasihat Korminas.(*)

BERITA TERKAIT