AMBON, Siwalima.id - Provinsi Maluku saat ini berada pada peringkat pertama provinsi dengan risiko bencana tinggi di Indonesia.
Kajian risiko bencana 2022–2026 mencatat setidaknya, terdapat 15 jenis ancaman yang berpotensi terjadi karena adanya gunung api aktif, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor yang terjadi setiap tahun.
“Tingginya indeks risiko tersebut menuntut upaya penurunan risiko bencana yang dilakukan secara simultan melalui peningkatan kapasitas daerah,” ungkap Plh Sekretaris Daerah Maluku, Kasrul Selang kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Sabtu (10/1).
Kasrul bilang, kondisi kerawanan bencana ini telah menjadi perhatian serius bahkan telah disampaikan kepada Pemerintah Pusat agar ada intervensi program mitigasi.
Dikatakan, beberapa program yang diusulkan meliputi, peningkatan kapasitas SDM ASN dalam penyusunan kajian risiko bencana, penyusunan dokumen perencanaan, penanggulangan bencana daerah, penguatan kapasitas melalui program satuan pendidikan aman bencana, RS/puskesmas aman bencana dan rumah ibadah tangguh bencana.
Disamping itu, lanjut Kasrul, perlu adanya penguatan logistik dan peralatan penanggulangan bencana, sebab hampir semua peralatan penanggulangan bencana di Maluku telah termakan usia dan perlu peremajaan.
“Harus diakui peralatan penanggulangan bencana kita usianya sudah sangat usang sudah di atas 10 tahun, khususnya kendaraan-kendaraan pendukung kebencanaan ini maka dibutuhkan dukungan pemerintah pusat,” ucap Kasrul.
Kasrul meyakini kolaborasi pusat dan daerah merupakan kunci untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan khususnya menyangkut penanggulangan bencana di Maluku.(S-20)