AMBON, Siwalimanews – Kapolres Pulau Buru, AKBP Ricky Purnama Kertapati ditegur atasannya Kapolda Maluku, menyusul santer dibeÂritakan adanya aktifitas penamÂbangan liar di tambang ilegal Gunung Nona, KeÂcamatan Lolongquba, KabuÂpaÂten Buru.
Sumber di kepolisian mengungÂkapÂkan, kalau Kapolda Maluku, Irjen Royke Lumowa sempat marah besar setelah sejumlah media mengungkapkan adaÂnya aktifitas penambangan tanpa izin di Gunung Nona yang dihuni lebih dari seribu penambang.
Kapolda sempat mengumpulkan beÂberapa stafnya, Kamis (5/9) untuk meÂngechek kebenaran informasi berita yang dirilis di koran maupun media onÂline. Pasalnya dari bawahannya di PuÂlau Buru, Kapolda belum pernah meneÂrima laporan langsung perihal aktifitas di Gunung Nona yang semakin mengÂgeliat.
Kata sumber itu, Kapolda meÂngonÂtak Kapolres Buru. Namun tidak dijelaskan isi percakapan teleÂpon. âSepertinya beliau menegur Kapolres Pulau Buru,â ujarnya.
Beberapa sumber juga sempat mengÂhubungi wartawan dan menaÂnyakan soal kekecewaan Kapolres Pulau Buru atas pemberitaan di media massa.
âKapolres Pulau Buru larang perÂwiranya berkomunikasi dengan wartawan yang bertugas di Namlea. Kenapa bisa, ada masalah apa?,â tanya sumber ini.
Redaksi Siwalima sempat mengÂhubungi wartawannya di Namlea, guna mengkonfrontir pertanyaan sumber itu, dan ia mengaku, belum tahu ada larangan dari kapolres untuk anak buahnya tidak berkomuÂnikasi dengan wartawan.
Hanya saja, usai rombongan Komisi V DPR RI balik ke Ambon dari pelabuhan speedboat Namlea, Kapolres sempat menyampaikan uneg-uneg soal berita yang ditulis Siwalima di bagian anchor halaman depan, dengan judul, âPenambang Liar Garap Emas, Kapolres Buru Ngaku tak Tahuâ.
Namun Kapolres tidak secara spesifik menyatakan keberatan atas berita itu ataupun menggunakan haknya untuk mengoreksi isi berita.
Ngaku tak Tahu
Seperti diberitakan, ribuan penamÂbang liar saat ini menggarap emas di tambang Gunung Nona, KabuÂpaten Buru. Anehnya, Kapolres Pulau Buru, AKBP Ricky Purnama Kertapati mengaku, tak tahu.
Ketika dikonfirmasi lewat pesan whatsapp, Rabu siang (4/10), KertaÂpati balik menanyai wartawan soal kebenaran info itu. âIni A-1 ?. Oke akan saya chek,â balasnya.
Setelah melihat bukti-bukti yang dikirim wartawan, Kertapati kembali menegaskan akan menindak lanjuÂtinya dengan menurunkan bawaÂhanÂnya melakukan pengecekan ke Gunung Nona.
Ketika ditanya kesigapannya meÂlakukan penertiban di tambang ileÂgal ini, ia mengaku terlebih dahulu harus berkomunikasi dan berkoorÂdinasi dengan satuan atas dan instansi terkait.
Namun tidak disebutkan langkah koordinasi itu kapan dilakukan. âOk. Akan kita tindak lanjuti. Untuk langÂkah penertiban skala besar tentunya akan kita komunikasikan dan koorÂdinasikan dengan satuan atas dan instansi terkait,â jelasnya.
Bercokol
Sebelumnya diberitakan, lebih dari 1000 orang saat ini melakukan aktifitas penambangan tanpa izin di kawasan yang penuh dengan sumÂber panas dan gas bumi di Gunung Nona, yang terhampar di belakang Desa Metar dan Wapsalit, KecamaÂtan Lolongcuba, Kabupaten Buru.
Informasi yang diperoleh SiwaÂlima Selasa (3/9) menyebutkan, baÂhan kimia berbahaya merkuri diguÂnakan untuk mengolah dan memurÂnikan emas di lokasi tambang GuÂnung Nona.
Fatalnya lagi, sisa limbah pengÂolaÂhan emas yang bercampur merÂkuri ini, dibuang langsung ke Sungai Waehedan yang sumber airnya masuk ke salah satu bendungan di Waeapo.
Bukan hanya limbah bercampur merkuri yang dibuang ke sungai, tapi lumpur-lumpur aktifitas tamÂbang juga dibuang ke sana.
Akibatnya, air Sungai Waehedan menjadi keruh dan kekeruhan air yang bercampur lumpur dan sisa limbah merkuri ini ikut masuk sampai ke saluran irigasi di persawahan di desa-desa terdekat.
âDikhawatirkan air yang mengairi sawah terkontaminasi merkuri, seÂhingga berpengaruh pada tanaman padi maupun palawija para petani yang menggunakan air dari saluran irigasi tersebut,â ungkap sumber yang meminta namanya tak dikoranÂkan.
Selain itu, di Gunung Nona diteÂmukan aktifitas domping sebanyak 10 unit, tembak larut 30 unit, dan ada jug penggalian manual kodok-kodok dan sistim karpet.
âPengolahan emas metode tromol yang menggunakan merkuri atau air raksa di lokasi tambang Emas GuÂnung Nona lebih dari 50 unit troÂmol,â beber sumber tersebut.
Ia menyebutkan, panambang liar di Gunung Nona ada juga dari masyarakat lokal. Namun yang terbanyak berasal dari luar Maluku, yakni Makassar, Bugis, Sultra, Sulut, Tasikmalaya, dan Ternate. âJumlahÂnya sudah lebih dari seribuan peÂnambang,â ujarnya.
Dijelaskan, kegiatan penambang ilegal di Gunung Nona mengunakan mesin tromol dengan media penangÂkapan emas dengan zat kimia berupa merkuri. Padahal merkuri adalah bahan kimia berbahaya dan dikateÂgorikan sebagai B3 yang dilarang karena berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Sumber itu mengungkapkan, aktifitas penambangan liar di KabuÂpaten Buru cukup menyerap BBM, yang diduga kuat adalah BBM berÂsubsidi. Stelah penutupan tambang Gunung Botak dan tambang GogoÂrea, konsumsi BBM dialihkan ke tambang lain yang belum ditutup.
Ada empat lokasi penambangan ilegal yang hingga kini belum disenÂtuh aparat kepolisian, yakni Gunung Nona, Kecamatan Lolongqiba, dan tiga lainnya berada di Kecamatan Fenalisela, yaitu di tambang Garang Desa Wamlana, tambang Waedanda dan tambang Miskoko Silewa.(S-27)