AMBON, Siwalimanews – Hingga saat ini, tak ada perkembangan baru dari lokasi proyek air bersih Pulau Haruku. Di seluruh lokasi proyek, tak ada tanda-tanda kegiatan dan pula tidak terlihat seorang tukang pun di lapangan.
Air Bersih di PuÂlau Haruku, yang terseÂbar di beberapa desa, seperti Kailolo, Pelauw, RohoÂmoni, Aboru dan Wasu, mengÂhabiskan anggaran Rp12,4 Miliar.
Sebagaimana dilanÂsir laman www.lpse.maÂlukuÂprov.go.Âid, adapun sumber pembiayaannya berasal pinjaman Pemerintah Provinsi Maluku dari PT Sarana Multi InfraÂstrukÂtur (SMI).
Sesuai kontrak, seluruh item pekerjaan harus mulai dilaksanaÂkan tanggal 3 Desember 2020 dan berakhir pada 31 Desember 2020 oleh PT Kusuma Jaya Abadi Construction, yang beraÂlaÂmat di Jalan Sumber Wuni Indah A-30/34 LaÂwang, Kabupaten MaÂlang, Jawa Timur.
Perusahaan ini yang belakaÂngan diketahui dipinjam oleh Fais, makelar yang membawa-bawa nama pejabat Badan Pemeriksa Keuangan, sudah diberi uang muka, sebelum kerja sebesar 20 persen. Tak cukup sampai di situ, bermodalkan nama BPK, Fais kemudian meminta tambahan dana sebesar 30 persen, sehingga total menjadi 50 persen. Jadi sebelum mulai kerja, Fais sang makelar ini sudah diberi modal Rp 6,2 miliar.
Menurut sumber SiwaÂlima, Fais sendiri yang turun langsung dan aktif berkomunikasi dengan para pejabat PU. âSeluruh pengurusan dilakukan oleh Fais, mulai dari tender sampai dengan urusan penÂcairan,â ujar sumber yang meminta namanya tidak ditulis ini.
Masih kata sumber itu, untuk memperlancar prosesnya, Fais selalu membawa-bawa nama pejabat Badan Pemeriksa Keuangan. âDia selalu membawa nama pejabat BPK, termasuk dalam proses pencairan,â tambah sumber tadi.
Mengenai nama BPK yang selalu dicatut Fais, Kepala Sub Bagian HuÂmas dan Tata Usaha BPK Maluku, Ruben Sidabutar mengatakan, BPK tidak pernah punya kepentingan dan tidak memiliki peranan untuk terlibat dalam proses di SMI, apalagi soal kerja air bersih yang ada di Pulau Haruku.
âKita tidak ada mencampuri uruÂsan dimaksud,â ujar Sidabutar keÂpada Siwalima, Minggu (30/5) meÂlalui pesan singkat.
Fais sendiri sangat tertutup dan tak menjawab panggilan telepon mauÂpun pesan singkat yang dikirim padaÂnya. Padahal awalnya Fais berÂkomunikasi dengan Siwalima, naÂmun saat mengetahui hendak dikonÂfrontir soal air bersih di Pulau HaÂruku, Fais tak pernah menjawab lagi panggilan dan pesan singkat yang dikirim.
Sejak pertama kali melihat fisik proyek di lapangan Selasa (25/5), diketahui kegiatan pengerjaan suÂdah lebih dari satu bulan terhenti. BeÂberapa warga desa kepada SiwaÂlima mengaku kalau seluruh tukang yang mengerjakan proyek tersebut sudah pulang sebelum bulan puasa lalu.
Detail Kerja
Sesuai kontrak, kontraktor dihaÂrusÂkan mengerjakan dua sumur di Kailolo, dua sumur di Pelau dan dua suÂmur lainnya di Dusun Namaa, Desa Pelauw dan Naira di Desa Aboru.
Dua lokasi yang sudah ditetapkan sebagai lokasi penggalian sumur di Kailolo terletak di kompleks Sekolah Dasar dan di dekat Kramat.
Dua sumur lain yang digali di Kailolo juga belum selesai dikerjakan dan hanya berbentuk lubang pengeÂboran yang ditutup karung plastik.
Selain sumur, kontraktor juga diÂharuskan membangun dua bak penampung yang masing-masing berkapasitas 100M3. Namun hingga kini hanya ada satu bak penampung yang dibangun, itupun masih belum rampung pengerjaannya.
Di Pelauw, titik penggalian sumur ada di belakang kantor Camat PeÂlauw, dimana kontraktor hanya meÂngÂgali sumur yang belum selesai dikerjakan. Sedangan dua bak peÂnampung yang berkapasitas 100M3, sama sekali belum dibangun.
Dua sumur lain yang sudah selesai digarap adalah di Namaa dan Naira. Kenati begitu sumur tersebut belum berfungsi, lantaran dua unit pompa yang harusnya terpasang, hingga hari ini tidak ada di lokasi.
Sumber Siwalima di Dinas PUPR mengaku kalau tadinya pompa untuk Namaa dan Naira sudah ada di lokasi, namun hingga kini tidak pernah dipasang.
Belakangan diketahui kalau konÂtraktor sudah menarik kedua pompa ini dari lokasi. âPompanya sudah diÂbawa lagi ke Ambon,â kata sumber itu.
Selain itu, tambah sumber tadi proÂyek air bersih yang sesuai kontrak harus selesai dikerjakan bulan Juni, hingga kini tidak menunjukan perkembangan berarti.
Kendati demikian, sang kontraktor makelar ini sudah mencairkan termin 75 persen, sebesar Rp. 3.120.997.250.
Sumber Siwalima lain di Pemprov Maluku mengatakan, pencairan terseÂbut dilakukan pada tanggal 17 Mei 2021. âTermin 75 persen baru dicairkan tanggal 17 Mei,â kata sumÂber yang minta namanya tidak ditulis itu.
Dengan demikian, hingga saat ini tercatat sudah Rp. 9,3 miliar yang digelontorkan Pemprov untuk memÂbiayai proyek mangkrak ini.
Perintah Atasan
Petugas lapangan PT Kusuma Jaya Abadi Construction, Sadly meÂngakui adanya perintah atasan unÂtuk tidak menceriterakan soal peÂkerjaan dan pencairan anggaran 75 persen, sekalipun pekerjaan belum selesai.
âKalau itu saya tidak memiliki kewenangan menjawab karena itu instruksi dari atasan saya juga, mungkin nanti saya konfirmasi dulu baru bisa menjawab,â ujar Sadly saat dikonfirmasi Siwalima, Senin (31/5) melalui telepon selulernya.
Ditanya, soal tidak adanya lagi peralatan untuk kelanjutan pengerÂjaan proyek, Sadly berdalih jika semua peralatan masih ada, namun karena adanya larang mudik sehiÂngga semua pekerja kembali ke Jawa.
âSemua peralatan masih ada pak, karena terkait masalah larangan mudik kita pulang dulu,â cetusnya.
Ketika ditanya soal adanya tekaÂnan kepada Dinas PUPR guna menÂcairkan anggaran, Sadly menegasÂkan bukan menjadi kewenangannya untuk menjelaskan
Saya tidak memiliki kewenangan untuk menjawab itu pak nanti dari pihak perusahaan,â ujar Sadly.
Sadly yang kembali dikonfirmasi Siwalima, Selasa (8/7) tidak meÂrespons panggilan telepon maupun pesan singkat WhatsApp.
Akui Belum Selesai
Sementara itu, Sekertaris Camat Pulau Haruku, Ali Latuconsina yang dikonfirmasi Siwalima membenarÂkan proyek air bersih di Pulau Haruku khususnya di Pelauw dan Kailolo belum selesai dikerjakan.
âKalau untuk pengeboran sudah selesai, tetapi kalau pekerjaan lanÂjutan belum selesai, panel surya bak penamÂpung itu belum dikerjakan, mesin pompa belum dilaksanakan,â jelas Latuconsina kepada Siwalima meÂlalui telepon selulernya, Rabu (26/5).
Menurutnya, proyek air bersih di Pulau Haruku dikerjakan tidak ada papan proyek, sehingga pekerjaan yang sudah harus diselesaikan namun belum diselesaikan.
âIni dari akhir tahun lalu, mestinya sudah harus selesai sehingga masÂyarakat sudah bisa manfaatkan teÂtapi belum. para pekerja dari luar dan mereka sudah pulang di sebelum puasa, dan belum balik. Sehingga beÂlum ada pekerjaan lanjutan,â ujarnya.
Ia berharap, pekerjaan proyek air bersih ini bisa diselesaikan dan masyarakat bisa memanfaatkan.
âHarapan besar proyek ini harus segera dilanjutkan dan diselesaikan biar masyarakat bisa memanfaatkan proyek ini,â jelasnya singkat.
Peserta Tunggal
Dalam dokumen resmi seperti yang tertera di laman www.lpse.maÂlukuÂprov.Âgo.id, proyek tersebut terdaftar dengan kode tender 14568288.
Tercatat ada delapan perusahaan yang terdaftar sebagai peserta leÂlang. Mereka adalah, PT Kusuma Jaya Abadi Construction, PT RuÂbenÂson Sukses Aabadi, PT Mumrajaya Rimbara Lestari, PT Rafla, CV Karya Mulya Indah, CV Waebake Indah, CV Rizky Illahi Contractor dan PT Prisai Siagatama Sejahtera.
Kendati begitu, hingga tahap kualiÂfikasi pada 25 November 2020, hanya PT Kusuma Jaya Abadi Construction yang diketahui memasuki semua dokumen yang diperlukan untuk peÂlelangan. Sementara tujuh perusaÂhaan lain, sama sekali tidak memasukan dokumen satupun. Kuat dugaan ada kongkalikong dalam proses tender, maupun peÂnetapan pemenang.
Tanpa Perencanaan
Seperti halnya proyek yang dikerjaÂkan dengan dana pinjaman SMI, proyek Pembangunan Sarana dan Prasarana Air Bersih Pulau Haruku ini juga tidak melibatkan konsultan peÂrencana dan juga konsultan pengaÂwasan. Padahal, dengan perencanaan dan pengawas yang baik akan menÂjamin kualitas dan mutu pekerjaan.
Di sisi lain, jika sama sekali tidak melibatkan konsultan perencana dan pengawas, proyek yang dikerjakan tidak memuaskan dan menuai baÂnyak komplain. Akibatnya bisa dilihat seperti sekarang, dimana proyek dikerjakan asal-asalan dan tak kunjung selesai. (S-19/S-39)