AMBON, Siwalima.id - Sejumlah dokter spesialis yang selama ini bertugas di Rumah Sakit Sumber hidup akan menarik diri, pelayanan Rumah Sakit Sumber Hidup terancam lumpuh.
Pasalnya, RS milik Sinode GPM ini yang memiliki tenaga dokter spesialis handal, 95 persennya akan menarik diri untuk sementara dari pelayanan di rumah sakit tersebut.
Alasan penarikan diri ini dikarenakan pembayaran jasa tenaga dokter spesialis tidak jelas.
“Pembayaran jasa para dokter spesialis yang belum dibayarkan ikurang lebih totalnya sekitar Rp1,6 miliar. Ini yang menjadi alasan kami untuk menarik diri untuk sementara dan tidak berikan pelayanan pada RS Sumber Hidup,” ungkap para dokter spesialis ini kepada Siwalima di Ambon, Rabu (8/4).
Menurut mereka, akibat jasa para dokter yang diabaikan oleh direktur dan manajemen RS Sumber Hidup, maka sejumlah dokter spesialis sebelumnya juga telah keluar dari rumah sakit ini, seperti dokter spesialis anastesi, dokter spesialis THT, dokter spesialis rehabilitasi medik, dokter spesialis Opskin/ Obgyn serta penata anastesi bahkan dokter lab.
“Para dokter spesialis ini juga keluar sebab pembayaran jasa dokter mereka 2-3 tahun itu molor terus,” jelas para dokter.
Menurut para dokter ini, semua kejadian yang terjadi di RS Sumber Hidup yang menyebabkan para dokter spesialis memilih menarik diri, lantaran Plt Direktur RS Sumber Hidup dr Thrifindana Abednego ini tak mampu mengelola keuangan dengan baik.
Bayangkan saja, sejak dirinya ditunjuk untuk memimpin RS Sumber Hidup sebagian besar dokter spesialis mengundurkan diri, lantaran masalah jasa dokter yang molor dibayarkan hingga miliaran rupiah, namun dirinya tak belajar dari pengalaman tersebut, sehingga terjadi lagi masalah yang sama, sehingga membuat sejumlah dokter spesialis kembali menarik diri mereka lagi.
“Masa kepemimpinan Plt Direktur ini juga RS Sumber hidup terkena fraud atau temuan kecurangan klaim fiktif oleh pihak BPJS Kesehatan sebanyak dua kali, sehingga uangnya harus dikembalikan ke BPJS. Ini terjadi akibat kesalahan manajemen,” beber para dokter ini.
Selain itu terkena Fraud, RS Sumber Hidup ini juga saat ini memiliki utang miliaran rupiah yang terdiri dari jasa dokter spesialis yang belum dibayarkan sebesar Rp 1,6 miliar serta tunggakan pembayaran obat pada Perusahaan Besar Farmasi (PBF) sebesar Rp1 miliar lebih, serta tunggakan jasa 4 dokter spesialis dari tahun 2021 hingga saat ini yang diperkirakan juga sebanyak ratusan juta rupiah.
Saat ditanya, jika pihak manajemen RS Sumber Hidup minta agar mereka (para dokter spesialis) kembali memberikan pelayanan seperti biasa maka, apa permintaan mereka, para dokter ini menegaskan, jika mereka kembali memberikan pelayanan, maka yang harus dilakukan manajemen dan pihak Yayasan serta Sinode GPM adalah, penggunaan anggaran RS harus sesuai serta diprioritaskan pada penunjang pelayanan, kemudian pembayaran jasa dokter harus dikembalikan serta Plt Direktur harus dicopot.
“Ini Tuntutan kami, jika ingin kami kembali memberikan pelayanan di RS Sumber Hidup,” tandas para dokter.
Para dokter ini juga mempertanyakan, status Plt dari Direktur, apalagi dirinya seorang PNS yang harus lebih memprioritaskan tugasnya ke puskesmas bukan memimpin sebuah RS, selain itu ia juga tak paham soal manajemen RS.
Pasalnya selama 3 tahun memimpin tak ada perbaikan yang dilakukannya di sektor keuangan RS sehingga semua masalah ini terjadi.
“Yang jadi pertanyaan kami, apakah tak ada lagi figur-figur anak-anak GPM di Maluku ini yang punya kapabilitas serta kemampuan untuk memimpin sebuah RS sehingga sang Plt Direktur ini yang jelas-jelas tak paham manajemen RS dan telah buat kerugian tapi dipertahankan?,” tanya para dokter.
Terpisah, para pegawai dan perawat pada RS Sumber Hidup yang ditemui Siwalima Rabu, (8/4) mengaku, jika para dokter spesialis ini menarik diri dan tak memberikan pelayanan di RS Sumber Hidup, maka yang mereka takutkan tak ada lagi pasien yang di rawat oleh mereka.
“Yang saat ini terjadi saja, gaji kita para pegawai dan perawat sudah terhambat dimana kita tak lagi dapat gaji tepat ditanggal 30 diakhir bulan, tapi sudah molor, ditambah lagi saat dapat gaji uang transport kita dipotong tanpa alasan yang jelas dan tak tau uang pemotongan itu dikemanakan,” ungkap para pegawai ini yang enggan nama mereka dipublikasikan.
Selain itu, mereka juga mempertanyakan janji sang Plt Direktur dr Thrifindana Abednego dalam rapat umum untuk membayar sisa gaji 30 persen mereka, hingga saat ini juga tak dibayarkan.
“Kami khawatir kalau tak ada dokter spesialis, maka pasien dipastikan akan berkurang signifikan, bagaimana dengan pembayaran gaji mereka nanti di bulan depan, sebab gaji dibulan ini saja sudah dapat terlambat, apalagi nanti jika tak ada pasien?,” tutur mereka.
Mereka berharap pihak MPH Sinode dapat melihat hal ini dengan bijak serta dapat mencari solusi agar masalah ini dapat diatas, jika perlu Plt Direktur ini diganti saja dengan yang memang layak memimpin RS Sumber Hidup, untuk mengembalikan kejayaan RS ini seperti dulu lagi.(S-26)