PIRU, Siwalimanews – Iksan Sambo, keponakan dari Bupati Seram Bagian Barat, Asri Arman diduga menjadi makelar proyek dengan membagi-bagi proyek ke para kontraktor, sebelum dilakukan peÂlelangan.
Bahkan bagi-bagi kue proÂyek yang ditenÂderkan meÂlalui LaÂyanan PeÂngaÂdaan Secara Elektronik (LPSE) atau Kelompok Kerja (POKJA) sudah diatur sesuai keinginan keponakan bupati tersebut, dengan cara diduga meneror pihak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan juga pegawai Pokja.
âPembagian proyek ini ponakan sekaligus anak angkat bupati yang mengaturnya dengan cara, membagikan kepada kontraktor yang ia kenal dekat dan ia menÂdapatkan fee dari nilai kontrak. Bahkan bagi-bagi proyek ini, suÂdah mencuat dikalangan konÂtraktor dan masyarakat di SBB,â beber Ketua Gerakan SBB Bersih, Jacobis Heatubun kepada SiwaÂlima di Piru, Rabu (13/8).
Mencuatnya permainan kotor ini sebelum proyek di lelang kata Heatubun, sudah dipastikan siapa pemiliknya. Sejumlah makelar proyek dan kontraktor mulai paÂsang harga dengan mahar alias uang muka yang harus disetor ke penguasa sebagai komitmen untuk mendapatkan paket tender atau jenis pekerjaan di setiap OPD, salah satunya pembangunan ruÂmah dinas tenaga kerja PuskesÂmas Limboro Desa Luhu dengan nilai anggaran Rp475 juta.
Kemudian pekerjaan pembaÂngunan Puskesmas Limboro deÂngan nilai proyek Rp1,3 miliar, Pembangunan Spam Jaringan Perpipaan Desa Luhu dengan nilai anggaran Rp750 juta, proyek jaringan Spam Air Bersih Dusun Melati dengan nilai anggaran Rp1,7 miliar serta berbagai proyek lainnya.
Hal ini terkuak, setelah salah satu kontraktor yang merasa dirinya didiskriminasikan dalam sebuah percakapan, sehingga sistem bagi-bagi proyek tersebut terboÂngkar. Bahkan ada beberapa nama kontraktor yang direkomendasikan sebagai pengatur proyek oleh sang ponakan bupati ini.
âSudah ada beberapa proyek terbagi meski belum dilelang. Atas tindakan anak angkat bupati ini sehingga membuat kontraktor lain kecewa. Bahkan disebut sebut dalam pekerjaan proyek tahun ini, ponakan bupati yang mengatur semuanya,â tutur Heatubun.
Menurutnya, anak angkat sang bupati ini, dianggap sebagai ketua kelas, sebab ia bertugas untuk menentukan siapa yang akan mengerjakan proyek tahun ini.
Permainan kotor ini, harus diusut tuntas oleh aparat penegak hukum, sebab memicu terjadinya praktek korupsi, kolusi dan nepoÂtisme.
Pasalnya, ketika proyek sudah dibagi-bagi sebelum dilelang, maka akan menimbulkan kualitas pekerjaan yang tidak baik.
âKalau sudah ditentukan siapa yang akan kerja, yah pasti kualitas dari proyek tersebut juga nantinya tidak maksimal. Aapart penegak hukum jangan tutup mata lihat persoalan seperti ini, karena bagi-bagi proyek ini saja sudah salahi aturan dan akan berdampak negatif bagi pembangunan di SBB kedepannya,â cetus Heatubun.
Iksan Sambo yang dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (13/8) mengajak untuk bertemu dan meminta agar berita tersebut jangan dipublikasikan.
âIni Kapasitas apa dan isu itu hal biasa, saya minta beritanya jangan dimuat yah,â pinta Sambo kepada Siwalima.
Sementara itu, Kepala ULP La Bastian saat dikonfirmasi Siwalima di ruang kerjanya selalu menghindar, bahkan jarang berada di ruang kerjanya. Begitupun saat dikonfirmasi memalui telepon selulernya, ia selalu tak menggubris panggilan masuk, bahkan seringkali berada di luar jangkauan. (S-18)