AMBON, Siwalima.id - Guna mencegah bentrokan antar dua kelompok pemuda di kawasan Stain meluas sekaligus memastikan situasi keamanan di kawasan itu terkendali, Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, turun langsung ke lokasi bentrokan, Kamis (27/11) malam.
Walikota yang didampingi Raja Batu Merah, Wakapolres Ambon, Dandim 1504 Pulau Ambon, perwakilan Polda Maluku, Tokoh Masyarakat serta sejumlah pimpinan OPD di Lingkup Pemkot Ambon itu, saat tiba di lokasi langsung berkoordinasi dengan aparat keamanan, mengenai langkah penanganan cepat serta himbauan yang perlu disampaikan kepada masyarakat.
Upaya ini dilakukan agar stabilitas di wilayah tersebut, segera pulih dan aktivitas warga kembali berjalan normal seperti biasanya.
“Pemda bersama aparat keamanan akan terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah tegas bila diperlukan,” tegas walikota di lokasi bentrokan.
Walikota juga mengajak masyarakat agar menjaga ketenangan serta tidak mudah terprovokasi, dengan isu maupun informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kehadiran pemerintah dan aparat keamanan di lapangan, diharapkan kondisi di wilayah Stain dan sekitarnya dapat kembali aman, kondusif, dan masyarakat merasa terlindungi.
Sebelum ke lokasi bentrokan, walikota sempat meluruskan maksud pernyataannya yang sebelumnya menimbulkan respons publik.
Yang mana walikota pada, Rabu (26/11) sempat mengeluarkan pernyataan Kalau tidak bisa menjaga perbedaan, pulang kampung. Pernyataan itu disampaikan terkait konflik di kawasan STAIN, menurutnya telah disalah artikan dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung kelompok atau suku tertentu.
Walikota dalam postingan video di laman Facebook pribadi, yang diunggah Kamis (27/11) menegaskan, bahwa ungkapan tersebut disampaikan dalam konteks mengajak seluruh warga untuk memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga Kota Ambon yang dicintai.
“Pernyataan saya yang mengatakan bahwa kalau tidak bisa menjaga perbedaan, pulang kampung, Dimaksudkan bahwa ada tanggung jawab bersama kita untuk menjaga Kota Ambon yang kita cintai. Selama ini pemerintah kota berupaya bagaimana kita bisa membangun hidup bersama di kota Ambon,” ujar walikota.
Walikota menegaskan, apabila terdapat permasalahan terkait tindakan kriminalitas, mekanisme penanganannya harus diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
“Sebagai orang yang tinggal di Ambon, tugas kita semua adalah menjaga kota ini supaya tetap aman, tetap damai, sehingga semua bisa beraktivitas dengan baik,” tandas walikota.
Walikota juga memastikan, tidak ada sedikit pun maksud untuk menyinggung kelompok, suku, maupun golongan tertentu. Tanggung jawabnya sebagai kepala daerah adalah menjamin rasa aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat yang tinggal di Ambon tanpa terkecuali. “Tanggung jawab saya sebagai Walikota adalah menjamin seluruh orang yang tinggal di Ambon untuk merasa nyaman hidupnya. Oleh karena itu saya berharap kita semua bisa hidup bersama, saling menghargai, saling menjaga,” ucap walikota.
Pada kesempatan itu, Walikota kembali mengajak masyarakat untuk mengedepankan kebersamaan dan semangat persaudaraan serta berharap, tidak ada lagi salah tafsir terkait pernyataan sebelumnya.
“Saya berharap tidak usah ada interpretasi yang lain. Tujuan saya adalah menjaga Ambon supaya menjadi rumah bersama kita, hidup damai berdampingan dan saling menghargai. Jika ada yang merasa tersinggung, sebagai Walikota saya minta maaf, tetapi tujuan saya semata-mata untuk menjaga Ambon untuk kita semua,” tegas walikota
GMNI Dukung Polisi
Terpisah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Maluku, mendukung aparat kepolisian untuk mengusut dan mengungkap aktor intelektual dibalik insiden bentrokan antar dua kelompok pemuda yang terjadi di kawasan IAIN Ambon.
Ketua DPD GMNI Maluku Alberthus YR Pormes menilai, peristiwa tersebut menunjukkan masih lemahnya kemampuan sebagian anak muda Maluku dalam mengendalikan emosi, sehingga mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik.
“Bentrokan yang terjadi di IAIN menjadi bukti, bahwa anak muda Maluku, khususnya yang berdomisili di Ambon, masih mudah terhasut oleh isu-isu yang mengganggu kenyamanan dan ketentraman hidup orang basudara di Kota Ambon Manise,” tulis Pormes dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Jumat (28/11).
Pengungkapan aktor intelektual dibalik bentrokan ini menurut Pormes, sangat penting untuk memberikan kepastian hukum, terutama bagi warga yang tidak terlibat, namun terdampak akibat bentrokan tersebut.
“Kami mendorong aparat kepolisian untuk mengungkap aktor intelektual, agar ada kepastian hukum bagi warga Kota Ambon yang tidak bersalah, tetapi menjadi korban,” tegas Pormes.
Selain itu kata Pormes, GMNI Maluku mengajak seluruh warga Kota Ambon untuk tetap menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Masyarakat juga diingatkan agar tidak terpancing provokasi yang dapat merusak hubungan orang basudara.
“Mari bersama-sama menjaga harmoni hidup orang basudara Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Pata Dua. Jadikan Ambon rumah yang nyaman bagi semua orang, dengan kehidupan yang aman, tentram dan menjadi laboratorium perdamaian bagi semua tanpa membedakan latar belakang apa pun,” himbau Pormes.(S-29/S-25)