AMBON, Siwalimanews – Penyerangan yang dilakukan oleh warga Hitu ke Desa Hunuth mengakibatkan puluhan rumah terbakar dan ratusan warga terpaksa mengungsi di lima lokasi berbeda.
Berdasarkan data Dinas SoÂsial Kota Ambon tercatat, seÂbanyak 739 pengungsi warga Hunuth yang terdiri dari 156 kepala keluarga
Demikian diungkapkan, KeÂpala Dinas Sosial Kota Ambon, Imelda Tahalele kepada SiwaÂlima melalui pesan whatsappÂnya, Rabu (20/8).
âDari rekap data sementara yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Ambon, warga yang mengÂungsi di Kantor Desa Poka ada 181 jiwa terdiri dari 32 KK, keÂmuÂdian ada pula di kantor BumÂdes Negeri Lama sebanyak 85 jiwa dari 20 KK, âungkap kadis.
Kadis menyebutkan ada juga 152 warga yang mengungsi di Latta, Lateri dan Passo yang terdiri dari 27 KK, Halong 31 orang (10KK).
âYang paling banyak itu menempati Gedung Serba Guna Desa Nania yaitu 290 orang yang terdiri dari 67 KK. Sehingga total ada 739 jiwa dari 156 KK. Itu data sementara yang dihimpun Dinas Sosial Kota Ambon pada Rabu Agustus, âsebutnya.
Dijelaskan pula bahwa sejauh ini Dinas Sosial telah melakukan pemÂberian bantuan berupa makaÂnan siap saji kepada para pengÂungsi. Selain makanan siap saji, Dinsos juga telah memberikan bantuan selimut sebanyak 140 lembar.
âSelain makanan siap saji ada juga selimut,â terangnya.
Kadis menambahkan, pembeÂrian bantuan berupa makanan siap saji nantinya akan berlangsung selama 3 hari. Selanjutnya akan diberikan bantuan berupa buffer stock atau bahan pokok kepada masyarakat. âNanti setelah pemÂberian tangÂgap makanan siap saji selama 3 hari, baru kita salurkan buffer stock,â tandasnya.
Isak Tangis
Isak tangis warga korban pemÂbakaran sejumlah rumah di Desa Hunuth warnai kunjungan GuberÂnur Maluku, Hendrik Lewerissa.
Pengungsi yang didominasi oleh kaum perempuan, anak-anak dan lansia tersebut dicurahkan saat gubernur tiba di Kantor Desa Poka, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Rabu (20/8).
Kepada gubernur, para penguÂngsi menceritakan begitu sadisnya tindakan pembakaran terhadap rumah-rumah warga oleh kelomÂpok masyarakat Hitu.
Mendengar keluhan warga GuÂbernur pun tak kuasa menahannya tangis, sebab tidak menduga kejadian seperti ini dapat terjadi.
Gubernur menyesalkan kejadian pertikaian antar dua kelompok masyarakat yang menyebabkan terjadinya pembakaran terhadap puluhan rumah dan fasilitas pemerintah desa Hunuth.
âSebagai gubernur saya tentu menyesalkan seperti ini. Saya tentu merasakan apa yang bapa dan ibu rasakan saat ini,â ucap Gubernur sambil mengusap air mata.
Gubernur mengatakan kejadian seperti ini tentu tidak akan terjadi jika masing-masing kelompok masyarakat dapat menahan diri dan tidak terprovokasi dengan berbagai isu yang berseliweran.
Namun kejadian pembakaran telah terjadi dan pemerintah daerah saat ini fokus untuk melakukan penanganan pasca pertikaian tersebut.
âPemerintah daerah tentu tidak menginginkan kejadian seperti ini terjadi, tapi karena sudah terjadi maka kita akan berusaha untuk menangani khususnya untuk penanganan rumah yang terbakar akibat pertikaian,â tegas Gubernur.
Gubernur pun menginstruksikan jajaran Pemprov untuk segera mengambil tindakan penanganan dengan memastikan kebutuhan masyarakat di pengungsian dapat terjamin mulai dari makanan, minum, susu untuk bayi dan aspek kesehatan.
Tak hanya itu, Gubernur memeÂrintahkan agar segera dilakukan trauma healing kepada korban anak-anak dan perempuan sehiÂngga dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
Terkait dengan rumah yang terÂbakar, Gubernur meminta jajaranÂnya untuk melakukan pendataan agar dapat ditangani sesuai deÂngan tingkat kerusakan.
âSaya tidak akan membiarkan para pengungsi ini memukul beban ini sendirian karena itu saya akan ambil langkah. Bagi rumah yang rusak akan kita bangun agar dapat ditempati kembali,â tegas Gubernur.
Gubernur pun memberikan kepada warga korban pengungsi khususnya bagi yang rumahnya tidak terbakar agar dapat kembali karena pemerintah daerah menjaÂmin keamanan.
âNegara harus hadir dalam menyelesaikan kasus ini dan kita pastikan keamanannya sehingga bagi masyarakat yang rumahnya tidak terbakar boleh kembali ke rumah,â harap Gubernur.
Polda Evakuasi
Kepolisian Daerah Maluku melaÂlui Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) mengeÂvakuasi 25 warga Desa Hunuth, Kecamatan Teluk Ambon, Selasa (19/8/2025).
Mereka terdiri dari anak-anak hingga lansia yang terjebak di sebuah keramba apung milik Dinas Perikanan.
Evakuasi dipimpin langsung Direktur Ditpolairud Polda Maluku, Kombes Pol Handoyo Santoso. Tim bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat mengenai kondisi darurat tersebut.
âKeselamatan jiwa masyarakat adalah hukum tertinggi. Sesuai arahan Bapak Kapolda Maluku, kami berkomitmen untuk membeÂriÂkan respons cepat dalam setiap kondisi darurat,â ujar Handoyo.
Proses penyelamatan dilakukan bertahap dengan menggunakan kapal patroli. Balita berusia 3 tahun dan seorang lansia 72 tahun menÂjadi prioritas utama dan langsung dibawa ke RS Ottoquik Passo untuk mendapat perawatan medis.
Seluruh korban selanjutnya diÂevakuasi ke Markas Komando DitÂpolairud di Lateri guna mendapatÂkan bantuan lanjutan. Ditpolairud juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan penaÂnganan pasca-evakuasi berjalan optimal.
Handoyo mengimbau masyaraÂkat agar segera menghubungi aparat keamanan terdekat jika menghadapi situasi darurat. âKehadiran Polri adalah untuk melindungi dan melayani,â katanya.
Aksi kemanusiaan ini disebut sebagai bukti komitmen Polri dalam menjalankan perannya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan perairan Maluku. (S-25)