SIWALIMA.id > Berita
739 Warga Hunuth Mengungsi
Daerah , Headline | Kamis, 21 Agustus 2025 pukul 23:41 WIT

AMBON, Siwalimanews – Penyerangan yang dilakukan oleh warga Hitu ke Desa Hunuth mengakibatkan puluhan rumah terbakar dan ratusan warga terpaksa mengungsi di lima lokasi berbeda.

Berdasarkan data Dinas So­sial Kota Ambon tercatat, se­banyak 739 pengungsi warga Hunuth yang terdiri dari 156 kepala keluarga

Demikian diungkapkan,  Ke­pala Dinas Sosial Kota Ambon, Imelda Tahalele kepada Siwa­lima melalui pesan whatsapp­nya, Rabu (20/8).

“Dari rekap data sementara yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Ambon, warga yang meng­ungsi di Kantor Desa Poka ada 181 jiwa terdiri dari 32 KK, ke­mu­dian ada pula di kantor Bum­des Negeri Lama sebanyak 85 jiwa dari 20 KK, “ungkap kadis.

Kadis menyebutkan ada juga 152 warga yang mengungsi di Latta, Lateri dan Passo yang terdiri dari 27 KK, Halong 31 orang (10KK).

“Yang paling banyak itu menempati Gedung Serba Guna Desa Nania yaitu 290 orang yang terdiri dari 67 KK. Sehingga total ada 739 jiwa dari 156 KK. Itu data sementara yang dihimpun Dinas Sosial Kota Ambon pada Rabu Agustus, “sebutnya.

Dijelaskan pula bahwa sejauh ini Dinas Sosial telah melakukan pem­berian bantuan berupa maka­nan siap saji kepada para peng­ungsi. Selain makanan siap saji, Dinsos juga telah memberikan bantuan selimut sebanyak 140 lembar.

“Selain makanan siap saji ada juga selimut,“ terangnya.

Kadis menambahkan, pembe­rian bantuan berupa makanan siap saji nantinya akan berlangsung selama 3 hari. Selanjutnya akan diberikan bantuan berupa buffer stock atau bahan pokok kepada masyarakat. “Nanti setelah pem­berian tang­gap makanan siap saji selama 3 hari, baru kita salurkan buffer stock,“ tandasnya.

Isak Tangis

Isak tangis warga korban pem­bakaran sejumlah rumah di Desa Hunuth warnai kunjungan Guber­nur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Pengungsi yang didominasi oleh kaum perempuan, anak-anak dan lansia tersebut dicurahkan saat gubernur tiba di Kantor Desa Poka, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Rabu (20/8).

Kepada gubernur, para pengu­ngsi menceritakan begitu sadisnya tindakan pembakaran terhadap rumah-rumah warga oleh kelom­pok masyarakat Hitu.

Mendengar keluhan warga Gu­bernur pun tak kuasa menahannya tangis, sebab tidak menduga kejadian seperti ini dapat terjadi.

Gubernur menyesalkan kejadian pertikaian antar dua kelompok masyarakat yang menyebabkan terjadinya pembakaran terhadap puluhan rumah dan fasilitas pemerintah desa Hunuth.

“Sebagai gubernur saya tentu menyesalkan seperti ini. Saya tentu merasakan apa yang bapa dan ibu rasakan saat ini,” ucap Gubernur sambil mengusap air mata.

Gubernur mengatakan kejadian seperti ini tentu tidak akan terjadi jika masing-masing kelompok masyarakat dapat menahan diri dan tidak terprovokasi dengan berbagai isu yang berseliweran.

Namun kejadian pembakaran telah terjadi dan pemerintah daerah saat ini fokus untuk melakukan penanganan pasca pertikaian tersebut.

“Pemerintah daerah tentu tidak menginginkan kejadian seperti ini terjadi, tapi karena sudah terjadi maka kita akan berusaha untuk menangani khususnya untuk penanganan rumah yang terbakar akibat pertikaian,” tegas Gubernur.

Gubernur pun menginstruksikan jajaran Pemprov untuk segera mengambil tindakan penanganan dengan memastikan kebutuhan masyarakat di pengungsian dapat terjamin mulai dari makanan, minum, susu untuk bayi dan aspek kesehatan.

Tak hanya itu, Gubernur meme­rintahkan agar segera dilakukan trauma healing kepada korban anak-anak dan perempuan sehi­ngga dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Terkait dengan rumah yang ter­bakar, Gubernur meminta jajaran­nya untuk melakukan pendataan agar dapat ditangani sesuai de­ngan tingkat kerusakan.

“Saya tidak akan membiarkan para pengungsi ini memukul beban ini sendirian karena itu saya akan ambil langkah. Bagi rumah yang rusak akan kita bangun agar dapat ditempati kembali,” tegas Gubernur.

Gubernur pun memberikan kepada warga korban pengungsi khususnya bagi yang rumahnya tidak terbakar agar dapat kembali karena pemerintah daerah menja­min keamanan.

“Negara harus hadir dalam menyelesaikan kasus ini dan kita pastikan keamanannya sehingga bagi masyarakat yang rumahnya tidak terbakar boleh kembali ke rumah,” harap Gubernur.

Polda Evakuasi

Kepolisian Daerah Maluku mela­lui Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) menge­vakuasi 25 warga Desa Hunuth, Kecamatan Teluk Ambon, Selasa (19/8/2025).

Mereka terdiri dari anak-anak hingga lansia yang terjebak di sebuah keramba apung milik Dinas Perikanan.

Evakuasi dipimpin langsung Direktur Ditpolairud Polda Maluku, Kombes Pol Handoyo Santoso. Tim bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat mengenai kondisi darurat tersebut.

“Keselamatan jiwa masyarakat adalah hukum tertinggi. Sesuai arahan Bapak Kapolda Maluku, kami berkomitmen untuk membe­ri­kan respons cepat dalam setiap kondisi darurat,” ujar Handoyo.

Proses penyelamatan dilakukan bertahap dengan menggunakan kapal patroli. Balita berusia 3 tahun dan seorang lansia 72 tahun men­jadi prioritas utama dan langsung dibawa ke RS Ottoquik Passo untuk mendapat perawatan medis.

Seluruh korban selanjutnya di­evakuasi ke Markas Komando Dit­polairud di Lateri guna mendapat­kan bantuan lanjutan. Ditpolairud juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan pena­nganan pasca-evakuasi berjalan optimal.

Handoyo mengimbau masyara­kat agar segera menghubungi aparat keamanan terdekat jika menghadapi situasi darurat. “Kehadiran Polri adalah untuk melindungi dan melayani,” katanya.

Aksi kemanusiaan ini disebut sebagai bukti komitmen Polri dalam menjalankan perannya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan perairan Maluku. (S-25)

BERITA TERKAIT