AMBON, Siwalima.id - Ketua Pusat Jurnal dan Publikasi Universitas Pattimura, Christiana Titaley menegaskan, pihaknya menargetkan 90 jurnal bisa naik peringkat nasional maupun internasional.
Upaya strategis ini dilakukan untuk mendorong diseminasi hasil penelitian Unpatti baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Ketika dosen mampu mendiseminasikan penelitiannya di tingkat internasional, maka ia tidak hanya menguatkan reputasi akademik pribadi, tetapi juga membuka peluang hasil penelitiannya disitasi dan dimanfaatkan oleh peneliti lain,” ujarnya, dalam keterangan pers, di Gedung Blok Masela, Unpatti, Poka, Rabu (26/11).
Dari 118 jurnal yang dikelolah, sebagian besar terakreditasi nasional. Dari jumlah tersebut, 62 jurnal telah terindeks nasional, termasuk satu jurnal yang berhasil masuk indeks internasional Scopus, capaian penting yang diharapkan menjadi pemantik bagi jurnal lainnya.
Christiana menekankan jurnal tidak harus sepenuhnya berbahasa Inggris untuk mencapai indeks internasional.
Ia mencontohkan jurnal di UI yang hanya dalam empat tahun naik peringkat hingga Q2 meski menerima artikel berbahasa Indonesia.
Proses menuju indeks internasional bagi jurnal Unpatti dinilai memiliki progres positif.
“Jika Tuhan mengizinkan, kami targetkan sekitar 90 jurnal dapat mencapai tingkat akreditasi lebih tinggi pada pertengahan tahun depan,” ungkapnya.
Untuk mendorong pencapaian tersebut, Pusat Jurnal dan Publikasi menggelar beberapa kegiatan strategis, seperti Klinik Pengelolaan Jurnal yang menghadirkan narasumber dari kementerian, tim indexing dan pengelola jurnal Scopus dari UI.
Klinik Penulisan Artikel Ilmiah yang menyasar dosen, khususnya dosen muda untuk meningkatkan kualitas penulisan artikel ilmiah agar layak dipublikasikan di jurnal bereputasi internasional. Narasumber berasal dari Universitas Hasanuddin, akademisi Indonesia di Amerika Serikat, serta dosen Unpatti dengan rekam publikasi kuat.
“Kami ingin dosen tidak hanya bermain di jurnal nasional, tetapi berani masuk ke jurnal internasional bereputasi,” terangnya.
Lanjutnya, Unpatti pernah menyelenggarakan konferensi internasional, namun belum berhasil menerbitkan prosiding terindeks. Karena itu, pelatihan kali ini menghadirkan penyelenggara konferensi yang telah sukses meraih pengindeksan internasional.
“Kami ingin ketika Unpatti menyelenggarakan konferensi, hasilnya benar-benar masuk prosiding terindeks,” katanya.
Christiana juga menyoroti kebijakan moratorium pembukaan jurnal baru di beberapa program studi. Kebijakan ini dinilai langkah penting untuk menjaga kualitas.
“Ini menunjukkan komitmen nyata untuk memajukan mutu penjurnalan. Bukan sekadar banyak, tetapi harus berkualitas,” tegasnya.
Berbagai kegiatan yang dilakukan merupakan upaya kolektif untuk menjadikan Unpatti semakin kuat dalam publikasi ilmiah.
“Ketika jurnal-jurnal kita naik kelas, manfaatnya kembali kepada institusi, dosen, dan masyarakat luas melalui hasil penelitian yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Sekretaris Pusat Jurnal dan Publikasi Unpatti, Revency Rugebregt menambahkan, perhatian dan dukungan universitas terhadap pengembangan jurnal ilmiah saat ini jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ia menilai dukungan tersebut menjadi energi penting bagi para pengelola jurnal yang selama ini bekerja dengan dedikasi tinggi.
“Selama kami menjadi bagian dari pengelolaan jurnal, tidak pernah ada pembiayaan atau perhatian sebesar yang kami rasakan saat ini. Meski jumlah anggaran terbatas, kami bersyukur karena perhatian itu nyata,” ujarnya.
Revency menegaskan proses publikasi pada jurnal bereputasi tidak mudah dan sering kali membutuhkan upaya besar.
“Menulis artikel untuk lolos pada jurnal berprestasi itu jauh dari mudah. Bahkan untuk mencapai jabatan profesor, banyak dosen menghadapi tantangan berat, termasuk biaya publikasi yang bisa mencapai puluhan juta rupiah,” katanya. (S-25)