SIWALIMA.id > Berita
Unpatti Dorong Mahasiswa Melek Investasi
Pendidikan | Rabu, 13 Mei 2026 pukul 14:29 WIT

AMBON, Siwalima.id - Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Pattimura, Dominggus Malle, menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda di tengah perkembangan transaksi digital dan investasi modern.

Literasi keuangan bukan sekadar mengetahui cara menggunakan layanan digital, tetapi juga memahami risiko, aspek hukum, serta manfaat dari penggunaan layanan tersebut.

“Banyak dari kita sudah menggunakan transaksi digital, tetapi belum tentu memahami secara benar terkait risiko dan aspek yuridisnya,” terang Malle saat sosialisasi kegiatan literasi keuangan yang diselenggarakan oleh BI, OJK, Kementerian Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan di Aula Rektorat Kampus Poka, Selasa (12/5).

Menurutnya, literasi keuangan menjadi penting karena masyarakat akan semakin diarahkan pada sistem transaksi non-tunai dan dunia investasi.

“Semua orang pada dasarnya adalah investor. Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan juga sedang berinvestasi untuk masa depan mereka,” katanya.

Selain itu, investasi tidak selalu dalam bentuk besar atau institusional. Menurutnya, investasi individu juga memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia, OJK, Kemenkeu dan LPS yang terus mendorong pemahaman literasi keuangan di kalangan generasi muda.

Dalam kesempatan itu, ia berharap mahasiswa dapat menjadi pelopor literasi keuangan bagi lingkungan sekitarnya sekaligus menjadi investor muda yang sukses di masa depan.

“Maluku memiliki sumber daya yang luar biasa. Kita tidak kalah dengan provinsi lain, hanya saja masih kurang promotor, inovator, dan investor dari daerah sendiri,” ujarnya.

Dorong Mahasiswa 

Jadi Investor

Sementara itu Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Ruth A Cussoy Intama menjelaskan pentingnya literasi keuangan sejak dini, khususnya di kalangan mahasiswa yang dinilai sebagai calon investor potensial di masa depan.

Pemahaman tentang investasi menurutnya tidak hanya cukup secara teori, tetapi juga perlu diikuti dengan praktik yang terukur dan penuh kehati-hatian.

“Semakin cepat kita mengenal literasi keuangan dan investasi, akan semakin baik. Mahasiswa masih memiliki waktu panjang untuk belajar dan memahami risiko,” kata Ruth.

Ia mengingatkan investasi tidak boleh dilakukan secara ikut-ikutan atau karena dorongan tren seperti fear of missing out. Setiap individu, memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi risiko investasi.

“Investasi itu tidak bisa disamakan antara satu orang dengan yang lain. Risiko kita berbeda dengan orang lain, bahkan dengan keluarga sendiri,” katanya.

Ruth juga mengungkapkan sekitar 54 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada di angka 66,46 persen, sehingga masih terdapat kesenjangan pemahaman.

“Jangan sampai kita sudah investasi, tapi pengetahuannya belum siap. Itu bukan keputusan yang bijak,” tegasnya.

Kesempatan yang sama, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama menjelaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan di masyarakat.

Menurutnya, literasi keuangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami dan mengambil keputusan finansial secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak masyarakat yang memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap merasa kekurangan karena belum mampu mengelola keuangan dengan baik,” ujarnya.

Rahmat juga menyoroti potensi besar Maluku yang meliputi sumber daya alam, sektor kelautan, pariwisata, serta kualitas generasi muda. Potensi tersebut tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi Maluku yang mencapai 5,16 persen (year on year) pada triwulan I 2026.

Meski demikian, ia menekankan capaian tersebut perlu terus dijaga dan diperkuat agar dapat memberikan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat.(S-25)

BERITA TERKAIT