AMBON, Siwalima.id - Siswa berkebutuhan khusus yang saat ini mengenyam pendidikan pada Sekolah Luar Biasa (SLB), diwajibkan untuk mendapatkan perhatian khusus dari kepala sekolah dan guru.
Penekanan ini disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Sarlota Singerin, saat mengumpulkan kepala sekolah dan guru SLB dari 9 kabupaten/kota se-Maluku yang berlangsung di Marina Hotel, Selasa (28/10) kemarin.
Singerin mengaku, pengelolaan sekolah luar biasa tidak boleh disejajarkan dengan SMA atau SMK, sebab memiliki karakteristik yang berbeda.
Pengelolaan SLB, wajib menggunakan filosofi khusus yang dinamainya mendidik dengan hati, mengelola dengan nurani, dan menjamin hak belajar setiap anak.
Guru SLB juga harus mengajar dengan hati yang mendengar, sebab pengalaman yang ditemukan di daerah-daerah, membuktikan tidak banyak guru yang mau mengajar dan mendengar dengan hati.
"Jangan mau mengajar anak bagus-bagus saja, sebab semua anak termasuk yang berkebutuhan khusus atau disabilitas harus mendapat tempat yang sama, termasuk dalam perencanaan pemerintah," ujar Singerin.
Menurutnya, guru SLB bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga penyembuh jiwa, artinya keterbatasan siswa harus kenali kemampuan unik yang dimiliki, karena setiap anak adalah kehidupan, maka tugas guru harus membaca dengan kasih dan kesabaran.
Selain itu, Guru SLB hadir bukan untuk menyesuaikan anak berkebutuhan khusus dengan dunia, tapi membuat dunia bisa menerima anak-anak tersebut, karena satu langkah kecil anak berkebutuhan khusus merupakan kemenangan besar bagi kemanusiaan.
"Pengelolaan pendidikan khusus harus dengan pendekatan khusus pula, artinya menata sistem dengan pendekatan nurani, berbeda dibanding pendidikan formal atau reguler, maka tidak boleh sekedar administrasi, tapi mesti humanistik dan transformatif," jelas Singerin.
Kepsek dan para guru SLB kata Singerin, harus mampu membangun budaya kerja yang inklusif dan kolaborasi, dimana mengelola SLB bukan sekedar berdasarkan anggaran, tapi sesuai kebutuhan anak.
"SLB itu harus dijadikan bukan tempat mengasihani, tapi memerdekakan potensi anak. Air mulut mereka "malele" kita ngelap, bukan tanda kita kasihani, tapi agar anak merasa merdeka terhadap proses belajar. Beta menaruh perhatian serius dan akan berpihak ke SLB, guna memastikan semua anak mendapat perhatian sama," tegas Singerin.
Untuk memastikan pengelolaan SLB berjalan dengan baik, Singerin menekankan perencanaan berbasis data, dimana tidak boleh hanya sekedar pengisian tabel dan angka-angka, tetapi harus ada pemetaan jiwa dan kebutuhan manusia, sehingga dalam pengambilan kebijakan juga sesuai dengan kebutuhan di SLB.
"Beberapa kali saya turun sebagai Assesor, banyak sekali Kepsek yang berpaut pada regulasi, tapi lupa memetakan jiwa-jiwa anak unik ini dalam perencanaan. Pendekatan di SLB harus berbeda yakni memotret potensi, bukan saja keterbatasan anak," jelas Singerin.
Tak hanya itu, dari sisi penilaian dan evaluasi satuan pendidikan khusus, Singerin menegaskan agar prosesnya dilakukan dengan cinta, artinya yang digunakan sebagai alat evaluasi pada satuan pendidikan khusus harus berlandaskan pada prinsip kemanusiaan dan keadilan pendidikan yang berfokus pada proses dan kemajuan individu, bukan sekedar hasil akhir, penggunaan instrumen harus adaptif.
Disisi lain, untuk mengukur kemampuan anak disabilitas, tidak boleh mengikuti pendekatan akademik, tetapi harus kesabaran dan hati nurani dengan tujuan melindungi dengan empati.
Hal ini menjadi penting, sebab anak berkebutuhan khusus sering menjadi korban perundungan atau bullying, karena perbedaan dengan anak normal, karena itu Bimtek bagi guru, siswa dan masyarakat harus menanamkan pada nilai empati, perlindungan dan kesetaraan terhadap anak-anak disabilitas dengan anak-anak normal lainnya.
"Mendidik anak disabilitas berarti juga mendidik masyarakat yang beradab dan guru tidak hanya pendidik, tapi pendengar. Sekolah adalah ruang yang aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus, bukan tempat penghakiman," tegas Singerin.
Ia menambahkan, setiap program pelatihan harus menguatkan kepekaan sosial, guna memberi rasa aman dan nyaman kepada anak di sekolah, sebab di tangan guru SLB dan pengelola pendidikan khusus, cinta berubah menjadi sistem empati kebijakan dan kasih menjadi peradaban yang tinggi bagi anak-anak yang terlupakan.(S-20)