AMBON, Siwalima.id - Hingga akhir tahun 2024 lalu angka prevalensi stunting Maluku masih berada di kisaran 28,4 persen atau jauh di atas target nasional sebesar 14 persen.
Dengan presentase tingkat prevalensi stunting tersebut menempatkan Maluku masuk dalam 18 provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.
Lantas, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa meminta meminta perhatian serius dari semua stakeholder untuk berkolaborasi untuk menurunkan angka stunting.
Demikian dikatakan gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Maluku Kasrul Selang pada kegiatan Launching Program Stunting Care yang berlangsung di Negeri Laha, Rabu (5/11).
“Stunting bukan sekadar isu kesehatan saja tetapi ancaman terhadap kualitas generasi masa depan Maluku di masa yang akan datang,” kata Kasrul.
Dijelaskan, anak-anak yang tumbuh dengan gizi buruk akan menghadapi keterbatasan dalam belajar, berkarya dan berkontribusi bagi daerah maka pemerintah menempatkan penanganan stunting sebagai prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia.
Untuk menekan tingkat prevalensi stunting yang tinggi tersebut maka strategi melibatkan multipihak baik pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial dan masyarakat termasuk program stunting care yang dipelopori oleh PT Pelabuhan Indonesia Persero Regional 4 Ambon sangat diperlukan.
Disisi lain peran para ibu dan ayah menekan tingkat prevalensi stunting juga sangat penting sebab stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi akibat kemiskinan saja tetapi juga rendahnya pengetahuan orang tua dan pola asuh.
“Pola asuh menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. Di banyak daerah, anak-anak menikah di usia muda, belum memahami cara merawat bayi dengan baik dan akhirnya anak-anak mereka rentan terhadap stunting,” ujarnya.
Kasrul mengaku sumber daya alam Maluku yang melimpah harusnya berkorelasi dengan angka stunting namun faktanya terbalik sebab walaupun sumber alam Maluku seperti ikan yang cukup banyak tetapi angka stunting juga cukup tinggi.
Karena itu, program stunting care merupakan langkah nyata untuk bersama-sama berkolaborasi dalam menekan stunting di Maluku dan diharapkan program stunting care tidak saja dilakukan di Ambon tetapi harus menyentuh daerah lain.
“Kita harus malu kalau ada anak Maluku yang masih kekurangan gizi jadi mari kita mulai dari rumah, dari dapur kita sendiri, dari kasih sayang kita kepada anak-anak dan ibu hamil. Kita jaga bersama, kita dukung bersama, supaya tidak ada lagi anak Maluku yang tertinggal,” ucap Kasrul.
Kasrul menambahkan Gubernur sangat optimis dengan semangat gotong royong dan hati yang tulus dapat wujudkan Maluku bebas stunting dalam mendukung Maluku yang maju, adil dan sejahtera menyongsong Indonesia Emas 2045. (S-20)