SIWALIMA.id > Berita
Sejumlah Barang Kebutuhan Mulai Naik Jelang Natal
Daerah | Jumat, 14 November 2025 pukul 14:20 WIT

AMBON, Siwalima.id - Sejumlah barang kebutuhan masyarakat di Pasar Mardika, Kota Ambon mulai merangkak naik sebulan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Cabe yang sepekan kemarin di jual pedagang pasar mardika dengan harga Rp 70.000 kini menjadi Rp100.000 per kilogram. Kemudian tomat yang awalnya Rp15.000 naik menjadi Rp 20.000 per kilogram.

Barang kebutuhan lain seperti bawang merah dan bawang putih masih di angka yang sama Rp 40.000 per kilogram sedangkan sayur-sayuran, bumbu dapur dan lainnya masih stabil.

“Yang sudah naik itu baru cabe dan tomat sedangkan yang lain masih stabil,” jelas Wati pedagang di Pasar Mardika kepada Siwalima, Kamis (13/11).

 Ia mengaku barang kebutuhan pasti akan naik jelang perayaan natal dan tahun baru dan itu terjadi bukan hanya di Pasar Mardika tetapi di pasar-pasar lain juga.

“Tergantung pasokan, kalau sekarang memang cabe stoknya tidak banyak sehingga harganya naik, beda seperti pekan lalu atau awal bulan itu justru cabe murah. Harganya 50 ribu per kilo,” terangnya.

Ditanya barang kebutuhan lain ia mengaku untuk sayuran harga masih tetap Rp 5000-6000 per ikat, tergantung besar kecilnya ikatan.

Sementara harga ikan di Pasar Mardika cenderung stabil di harga Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per tumpuk tergantung jenisnya atau ukuran.

Tekan Harga Beras

Sebelumnya diberitakan, harga beras belum kunjung turun dan diprediksi akan naik menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Naiknya harga beras juga berpengaruh pada naiknya sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di sejumlah pasar di Kota Ambon maupun di kabupaten kota lainnya.

Harga beras Bulog saja menyentuh angka 16-17 ribu/kg sementara beras premium menyentuh angka 17-20 ribu/kg dijual pedagang.

Perum Bulog Maluku dan Maluku Utara tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya mampu menekan agar pasokan pangan yang beredar stabil di pasar.

Badan Pusat Statistik mencatat pada Oktober 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Maluku sebesar 2,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,62.

Inflasi (y-on-y) tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 3,03 persen dengan IHK sebesar 110,12 dan terendah terjadi di Kota Tual sebesar 1,26 persen dengan IHK sebesar 109,95.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 8 indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,04 persen kelompok kesehatan sebesar 4,45 persen,” kata Kepala BPS Maluku Maritje Pattiwaellapia beberapa waktu lalu.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok transportasi sebesar 1,20 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,85 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,33 persen.

Sementara itu Bank Indonesia Perwakilan Maluku dalam rilisnya kepada Siwalima, Rabu (5/11) menyebut IHK di Maluku menunjukkan hasil positif pada Oktober 2025, dengan deflasi sebesar 0,05 persen (mtm), yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,29 persen (mtm).

“Dalam hal inflasi tahunan, Maluku tercatat mengalami inflasi sebesar 2,30 persen (yoy), berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen yang ditargetkan oleh BI,” kata Kepala Perwakilan BI Maluku, Mohamad Latif, dalam rilisnya, Rabu (5/11).

Ia menjelaskan capaian deflasi pada Oktober 2025 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang memberikan andil deflasi sebesar 0,20 persen (mtm).

Penurunan harga ini terutama terjadi pada komoditas hortikultura, seperti tomat, bawang merah, kangkung, dan cabai rawit, dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,24 persen, 0,15 persen, 0,08 persen, dan 0,05 persen.

“Periode panen komoditas hortikultura di berbagai daerah seperti Kabupaten Maluku Tengah, Kota Ambon, Kabupaten Buru dan Kabupaten Seram Bagian Barat, serta terjaganya pasokan dari luar daerah, menjadi faktor utama dalam penurunan harga komoditas tersebut,” ujarnya.

Ia menyebut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku terus berupaya mengoptimalkan berbagai program pengendalian inflasi.

Salah satu langkah yang telah diambil adalah peningkatan frekuensi kegiatan gerakan pangan murah, serta fasilitas distribusi transportasi untuk penyaluran stabilisasi pangan harga pangan ke Pulau Haruku.

Selain itu, Perum Bulog Kanwil Maluku dan Maluku Utara juga tengah menjalin kerja sama dengan Kabupaten Kepulauan Aru dalam penyediaan gudang transit, yang diharapkan dapat memperlancar distribusi barang kebutuhan pokok.

Dan pada November nanti, BI Maluku bersama Pemprov lanjutnya akan melaksanakan kegiatan panen digital farming untuk komoditas bawang merah dan aneka cabai di Kabupaten Maluku Tengah.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan penerapan teknologi pertanian digital di Maluku,” jelasnya. (S-09)

BERITA TERKAIT