MAKASSAR, Siwalimanews – Forum wartawan mitra Bank Indonesia Maluku berkesemÂpatan melakukan kunjungan ke salah satu lokasi UMKM dibawah binaan BI di Makassar.
Kampung Berua dan Fenisa 05 mendapat dukungan berupa pelatihan, pendampingan usaha, hingga kesempatan pameran di tingkat nasional dan internasional hingga kini menjelma menjadi ikon geowisata Sulawesi Selatan.
âSaya bersyukur jadi binaan BI. Dampaknya besar sekali, mulai dari peningkatan kualitas sampai jaringan pemasaran,â kata Lindayati.
Kisah Kampung Berua dan Fenisa 05 memperlihatkan pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.
âKalau JuliâAgustus ramai sekali pengunjung, bisa 200 orang sehari. Warga di sini semua terlibat, mulai dari pemandu, penjaga, sampai yang mengelola perahu,â ujar Fitri, petugas jaga dari Kampung Berua, saat diwawancarai Siwalima, saat berkunjung di Berua, Kamis (9/10).
Ia mengatakan, kampung yang resmi dibuka sebagai destinasi wisata pada 2013 ini dikelola secara gotong royong oleh masyarakat melalui Kelompok usaha bekerja sama dengan pemerintah desa.
Dari Berua yang lestari, semangat serupa tumbuh di tangan Lindayati, perempuan tangguh di balik merek Tenun Ikat Fenisa 05, salah satu unit usaha mikro binaan Bank Indonesia, Makassar.
Di bengkel kecilnya, Lindayati memperlihatkan helai demi helai Tenun Sekomandi, wastra khas Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan yang dikenal karena filosofi persaudaraan dan keteguhan hati.
âNama Sekomandi itu dari kata âSekoâ yang berarti persahabatan, dan âMandiâ yang berarti kekuatan. Jadi maknanya, hubungan yang kuat dan saling menguatkan,â tuturnya.
Nama Fenisa 05 mulai dikenal setelah tampil dalam ajang nasional Gernas Bangga Buatan Indonesia (BBI) di Jakarta pada 2019.
Sejak itu, tenun karya Lindayati menembus pasar nasional bahkan mancanegara, dengan pembeli dari Bali, Jakarta, Jepang, dan Eropa. âAwalnya saya cuma jual kain, tapi karena harganya tinggi, saya kolaborasi dengan desainer lokal buat jaket dan gamis. Ternyata peminatnya banyak,â katanya. (S-25)