AMBON, Siwalima.id - Walaupun memiliki hasil pertanian yang berlimpah, namun uji mutu masih dilakukan di Surabaya menjadi salah satu kendala ekspor langsung dari Maluku.
Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda mengaku potensi produksi komoditas pala sampai dengan akhir tahun 2025 rata-rata 6 ribu ton dengan daerah penghasil utama berasal dari Banda, Kabupaten Maluku Tengah.
"Pala asal Banda merupakan salah satu penyumbang ekspor komoditas untuk pala asal Maluku, tapi semuanya diekspor dari luar Maluku, ini kelemahan kita," jelasnya kepada wartawan di Ambon, Senin (2/3).
Ia menyebut ekspor pala asal Maluku dilakukan dari Kota Surabaya dan berdampak pada pencatatan ekspor sebagai komoditas Surabaya bukan Maluku, padahal pala berasal dari Maluku.
Kendala utama yang dihadapi pemerintah sambungnya, terletak pada laboratorium pengujian mutu produk yang tidak dimiliki sehingga uji mutu harus dilakukan di Surabaya.
"Selama ini ekspor pala memang masih cukup rendah karena kebanyakan pala Maluku diantaranya pulaukan ke Surabaya baru diekspor. Dari sana karena kita masih terkendala dengan beberapa administrasi yang sifatnya teknis seperti pengujian mutu yang harus kita lakukan dilakukan di Surabaya," terangnya.
Tauda mengaku kondisi ini tentu menjadi dilema bagi pemerintah sebab berapapun banyaknya komoditi pala yang diekspor jika pengujian mutu dilakukan buka di Maluku, tentu akan tidak akan tercatat menjadi komoditas unggulan.
“Kedepannya pengujian mutu harus dilakukan dari Maluku sehingga ada keuntungan yang nantinya diperoleh pemerintah dari nilai ekspor pala Maluku.(S-20)