AMBON, Siwalimanews – Pelayanan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak di Kota Tiakur, Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), dinilai tak penuhi standar operasional.
Pasalnya, hingga kini pengisian BBM di SPBU tersebut masih dilakukan secara manual menggunakan ember, bukan melalui dispenser otomatis sebagaimana standar operasional SPBU Kompak Satu Harga.
âIni model pengisian zaman dulu, disendok pakai ember seperti jual minyak tanah. Tidak layak, apalagi ini sudah dua tahun beroperasi,â tandas Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Suanthie John Laipeny, kepada Siwalima, di Balai Rakyat Karpan Ambon, Kamis (7/8).
Selain metode pengisian yang primitif, Laipeny juga mengeluhkan antrean panjang dan jam operasional SPBU yang tidak menentu.
âKadang buka jam sembilan, kadang lebih siang. Tutup pun sesuka hati. Seharusnya SPBU buka minimal dari pukul 08.00 sampai 15.00 WIT,â tegasnya.
Kata dia, SPBU Kompak di Tiakur merupakan hasil relokasi dari Pulau Tiakur. Namun, selama dua tahun beroperasi, pelayanan SPBU tersebut dinilai tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
Laipeny juga menyesalkan ketidakhadiran pengelola SPBU dalam rapat tersebut. Surat undangan yang dilayangkan DPRD tidak sampai ke pemilik resmi, Martin Luther, yang disebut berdomisili di Surabaya. Sementara operasional harian SPBU dijalankan oleh seseorang bernama Pak Jams.
âPertamina memang katakan secara legal SPBU ini sudah memenuhi syarat. Tapi fakta lapangan jelas menunjukkan pelayanan sangat buruk. Bahkan, pengawasan hampir tidak ada,â ungkapnya.
Komisi II DPRD Maluku mendesak Pertamina untuk segera melayangkan surat resmi kepada pengelola SPBU sekaligus memberikan teguran tegas atas buruknya layanan yang merugikan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Sales Manager Pertamina, Afif, menyatakan pihaknya akan segera turun ke lapangan untuk memantau langsung dan meminta pengelola segera memperbaiki pelayanan serta jam operasional sesuai standar SPBU Kompak Satu Harga.(S-26)