MASIHULUN, Siwalimanews – Situasi keamanan di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, kini berangsur-angsur kondusif pasca bentrok antar warga dari Desa Sawai, Rumaolat, dan Masihulan, Kamis (3/4) kemarin.
Namun, dampak dari konflik tersebut masih dirasakan ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Sebanyak 337 warga, terpaksa mengungsi dan kini menempati tenda-tenda darurat yang dibangun oleh Dinas Sosial Maluku Tengah.
Sebagian dari mereka, bahkan tidur di dalam Gedung Gereja Hapare Haloi, Jemaat GPM Masihulan, yang baru diresmikan oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa pada awal Maret lalu.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Siwalimanews hingga Sabtu (5/4), tercatat sedikitnya 69 bangunan hangus terbakar yang terdiri dari 68 rumah warga, satu Gedung Sekretariat Ekowisata, serta satu gedung gereja. Selain itu, 34 unit sepeda motor turut terbakar dalam insiden tersebut.
Camat Seram Utara Ahmad Ohorella yang dikonfirmasi membenarkan jumlah kerusakan tersebut dan mengaku, pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk menjamin keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
“Kami terus berupaya memastikan warga terdampak mendapat tempat tinggal sementara, makanan, dan layanan kesehatan yang memadai. Situasi saat ini sudah aman, tapi pemulihan masih membutuhkan waktu dan perhatian serius,” ucap Ohorella kepada Siwalimanews di Masihulan.
Lebih lanjut,Mantan Camat Seram Utara Barat ini menyebut, bentrokan itu juga mengakibatkan 11 orang warga mengalami luka-luka. Dua diantaranya dirujuk ke RSUP Dr J Leimena dan RST Ambon, tiga lainnya dirawat di RSUD Masohi, sementara sisanya mendapat perawatan jalan.
âMeski situasi telah sepenuhnya dikendalikan oleh aparat TNI dan Polri, namun trauma serta kebutuhan dasar pengungsi masih menjadi perhatian utama pemerintah daerah,â tandas Ohorella.(S-17)