SIWALIMA.id > Berita
Pangdam: Pena Wartawan Lebih Tajam dari Pedang
Daerah | Jumat, 24 April 2026 pukul 13:56 WIT

AMBON, Siwalima.id - Pena wartawan lebih tajam dari pedang karena ada kekuatan, tanggung jawab dan dampak dari tulisan seorang wartawan itu sendiri.

Pena wartawan merupakan perpanjangan jiwa yang menghubungkan kebenaran dengan dunia, dimana saksi sunyi dari pergulatan antara nurani dan kenyataan. 

Penegasan itu disampaikan Panglima Komando Daerah Militer XV Pattimura, Mayjen Dody Triwinarto saat melaksanakan silaturahmi dengan awak media di rumah dinas Tapalkuda Air Salobar, Kota Ambon, Rabu (22/4/).

Dalam pertemuan yang berlangsung ramah, Dody mengakui pentingnya peran insan pers menjalankan fungsi kontrol sosial. 

Menjamurnya media di era digitalisasi, ia  berharap peran wartawan dapat menjadi bagian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dikatakan, era digital saat ini peran jurnalis semakin krusial karena informasi dapat tersebar luas hanya dalam hitungan detik.

“Senjata paling ditakuti oleh manusia penghuni bumi ini  adalah senjatanya jurnalis. Pena warta­wan itu lebih tajam dari mata pedang. Kalau sekarang bukan lagi pena, tetapi jari,” kata Pangdam.

Menurutnya, kekuatan media tidak hanya mempengaruhi opini publik, tetapi juga dapat menentu­kan arah stabilitas sosial di suatu daerah.

Pada kesempatan itu jenderal bintang dua ini menunjukan sikap yang sangat kekeluargaan dengan insan pers.

Ia mengajak pers  perkuat persa­tuan dan komunikasi di Maluku. Baginya Maluku merupakan daerah dengan potensi yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

“Saya baru pertama kali ke Ambon. Masyarakat Ambon memiliki karakter ramah, penuh kasih, dan menjunjung tinggi nilai persauda­raan. Saya merasa bangga bisa berada di sini. Sambutan masyarakat sangat baik, dan ini menjadi peng­alaman berharga bagi saya,” ujarnya.

Ia menekankan, pentingnya soli­ditas dan persatuan masyarakat Malu­ku khususnya Kota Ambon sebagai fondasi utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di bumi raja-raja ini. “Soliditas persatuan masya­rakat Maluku dan Ambon secara khusus itu harga mati. Karena dengan persatuan, kita bisa berbuat apa pun untuk kemajuan daerah. Tolong jaga persatuan kita. Jadilah bagian dari yang menjaga kondusivitas daerah ini,” pesannya.

Jurnalis tambahnya, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas serta memperkuat persatuan masya­rakat Maluku. 

Olehnya itu media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penentu arah opini publik.

“Peran jurnalis sangat luar biasa. Dari yang tidak terlihat bisa menjadi jelas, dari yang  hitam bisa menjadi putih dan abu-abu bisa menjadi terang,” ungkap Pangdam.

Menariknya, Pangdam secara terbuka mengaku tidak alergi terha­dap kritik. Ia justru mendorong media untuk tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesio­nal dan bertanggung jawab.

“Silahkan melakukan fungsi kontrol dengan profesional, sebab tanpa profesional bahaya besar dari pemberitaan yang tidak terkonfir­masi. Informasi yang dipengaruhi sentimen atau kepentingan tertentu dapat berdampak serius bagi masya­rakat maupun citra daerah. Kalau kita tidak bisa memfilter dan menyaring informasi, apalagi membuat berita dengan sentimen tertentu, itu sangat berbahaya,” pintanya.

Ia mengingatkan, pemberitaan negatif tanpa dasar kuat tidak hanya merugikan publik, tetapi juga dapat mencoreng nama baik daerah dan bahkan insan pers itu sendiri. “Kalau kita memberitakan hal buruk tanpa dasar yang kuat, yang rugi juga kita, yang malu juga kita,” ungkapnya.

Ia mengajak, insan pers di Ambon untuk menyajikan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga kons­truktif dan membangun. (S-10)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps