AMBON, Siwalimanews – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan pemerÂinÂtah daerah melalui OPD terkait terlibat dalam peÂnyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG).
Instruksi ini disampaikan Mendagri saat zoom meeting bersama pemerintah daerah baik provinsi, kabuÂpaten maupun kota, Senin (29/9).
Asisten Bidang PemerinÂtahan dan Kesra Sekda Maluku, Djalaludin SalamÂpessy mengungkapkan, Mendagri sangat tegas dalam memberikan araÂhan kepada Pemda guna memastikan program MBG berÂjalan dengan baik.
Mendagri kata Salampessy, menekankan pentingnya SPPG memperhatikan SOP dalam meÂnyiapkan makanan mulai dari tahapan penyiapan bahan hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
âMendagri mengingatkan agar seluruh proses penyiapan MBG wajib memenuhi mekanisme dan prosedur. Jadi Pemda harus terliÂbat langsung dengan melakukan pengawasan yang ketat,â ujar Salampessy.
Menurutnya beberapa langka teknis yang akan dilakukan kedeÂpan seperti Dinas Kesehatan wajib melibatkan puskesmas untuk mengukur berat dan tinggi badan anak sebelum MBG dikonsumsi.
Sementara OPD teknis seperti Dinas Pendidikan dan Dinas PerÂlinÂdungan Perempuan dan Anak wajib mengawasi proses distribusi MBG ke sekolah, sedangkan Dinas KetaÂhanan Pangan wajib memasÂtikan suplai kebutuhan tidak terganggu.
âKenapa sebelum pemberian makan itu anak wajib ditimbang dan diukur tinggi badan supaya bisa diketahui perkembangan siswa usai pemberian MBG,â beber Salampessy.
Terkait dengan evaluasi koki yang bermasalah, Salampessy memastikan hal itu akan dilakukan jika nantinya terjadi masalah.
Perhatian Serius
Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Maluku, Yan Zamora Noach meminta pemerintah daerah agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.
Menurut Noach, kasus yang sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluÂruh, baik dari sisi penyediaan, peÂngawasan, hingga distribusi maÂkaÂnan kepada penerima manfaat.
âKasus MBG yang terjadi di Ambon, Tual, dan MBD ini harus menÂjadi perhatian serius. Jangan sampai program yang seharusnya menyehatkan anak-anak, justru meÂnimbulkan masalah kesehaÂtan,â tegas Noach kepada Siwalima melalui sambungan teleponnya, Senin (29/9).
Ia juga mengingatkan agar pemerintah daerah di kabupaten/kota lain di Maluku melakukan langkah antisipasi, apalagi kasus serupa juga telah terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, mekanisme pengaÂdaan dan distribusi makanan berÂgizi harus benar-benar diawasi dengan ketat.
âDaerah-daerah lain harus antisiÂpasi. Jangan sampai ada lagi kasus keracunan MBG. Semua harus memastikan kualitas makaÂnan itu aman, layak, dan higienis,â ujarnya.
Lebih lanjut, Noach menegasÂkan bahwa, Pemerintah Provinsi Maluku harus memainkan peran penting dalam menyukseskan program MBG.
Hal itu dapat dilakukan dengan membina penyediaan bahan baku lokal, mengawasi dan memastiÂkan keamanan pangan, melakuÂkan sosialisasi standar gizi, serta memberdayakan UMKM sebagai penyokong utama program.
âHarus bisa dipastikan stok bahan baku makanan itu benar-benar tersedia dan aman untuk dikonsumsi. Pemerintah provinsi jangan hanya jadi penonton, tapi harus hadir membina dan mengawasi langsung,â tandasnya.
Noach memastikan, pihaknya di Komisi IV akan terus mendorong agar pemerintah provinsi maupun kaÂbupaten/kota memperkuat pengÂawasan terhadap program MBG, seÂhingga benar-benar memberi manÂfaat positif bagi masyarakat tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
âKami tidak ingin kejadian serupa terus berulang. Program ini baik, tapi kalau pengawasan leÂmah justru bisa menjadi bumeÂrang. Pemerintah harus pastikan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, benar-benar mendapat makanan bergizi dan aman,â pungkasnya. (S-20/S-26)