AMBON, Siwalima.id - Direktur PT Maluku Energi Abadi MAS Latuconsina mengingatkan, pelaku usaha di Maluku untuk segera meningkatkan kapasitas agar tidak tertinggal dalam pembangunan proyek strategis nasional Blok Masela.
Pernyataan itu disampaikan Latuconsina, usai mengikuti FGD Blok Masela yang digelar Unpatti Ambon bekerjasama dengan Inpex Masela Ltd yang membahas hasil kajian akademik, terkait kesiapan rantai pasok dan vendor lokal yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Ambon, Kamis (11/6).
Kajian tersebut menurut Latuconsina, menunjukkan bahwa kapasitas dunia usaha lokal masih jauh dari standar yang dibutuhkan untuk terlibat dalam proyek berskala besar.
“Secara faktual, kita masih jauh dari standar yang diinginkan. Ini realita, tetapi juga kabar baik karena kita masih punya waktu untuk menyiapkan diri,” tandas Latuconsina.
Latuconsina yang juga Ketua Umum Kadin Maluku ini menilai, selama ini pelaku usaha di Maluku masih sangat bergantung pada proyek pemerintah yang bersumber dari APBN dan APBD. Kondisi efisiensi anggaran belakangan ini disebut, berdampak pada menurunnya aktivitas ekonomi daerah.
Ia juga menyoroti, sejumlah proyek, termasuk yang melibatkan perusahaan nasional dan BUMN, pelaku usaha lokal masih minim terlibat sebagai penyedia jasa maupun vendor. Berdasarkan temuan kajian yang dipaparkan, sebagian besar pelaku usaha lokal di Maluku disebut masih berada dalam kondisi terbatas, dengan modal usaha rata-rata di bawah Rp1 miliar.
“Ini menjadi cambuk bagi kita semua. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” tandas Latuconsina.
Sebagai BUMD yang mendapat mandat pengelolaan participating interest (PI) 10 persen pada sejumlah blok migas kata Latuconsina, PT Maluku Energi Abadi menyatakan siap berperan sebagai local integrator.
Peran ini mencakup penguatan data, pendampingan, dan pengorganisasian vendor lokal agar mampu memenuhi standar industri migas, sehingga dapat masuk dalam rantai pasok proyek Blok Masela. Potensi nilai kandungan dalam negeri (TKDN) yang disebut dapat mencapai sekitar 26,6 persen dari total investasi proyek, atau setara sekitar Rp90 triliun.
Menurutnya, jika potensi tersebut dapat diserap maksimal oleh tenaga kerja dan pelaku usaha lokal, dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian Maluku dalam jangka panjang.
“Kalau ini kita kawal selama puluhan tahun masa proyek berjalan, manfaat ekonominya akan luar biasa bagi daerah,” tutur Latuconsina.
Kadin Maluku lanjut Latuconsina, berencana melanjutkan diskusi rutin bulanan dengan melibatkan akademisi dari Unpatti, asosiasi pengusaha, serta pemerintah daerah.
Forum tersebut akan membahas kesiapan SDM, standar industri, hingga peluang kemitraan dengan perusahaan nasional dalam proyek strategis tersebut. Momentum ini, harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Maluku sebagai salah satu pusat pengembangan energi nasional di masa depan.(S-25)