AMBON, Siwalima.id - Capaian program imunisasi anak di Kota Ambon pasca pandemi Covid-19 mengalami penurunan.
Penurunan ini, dipengaruhi masih adanya sebagian masyarakat yang menolak anaknya untuk mendapatkan imunisasi.
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan Norimarna kepada menjelaskan, bahwa imunisasi anak diberikan sejak bayi baru lahir hingga usia sekolah dasar.
“Program imunisasi pada anak diberikan mulai dari usia 0 hari hingga kelas 6 SD. Khusus imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan, 1 tahun 6 bulan, serta saat anak berada di kelas 1 SD,” jelas Norimarna kepada Siwalima.id di Ambon, Selasa (17/3).
Namun demikian kata Norimarna, tantangan terbesar saat ini justru terjadi pada imunisasi anak usia sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Berdasarkan hasil evaluasi, penolakan paling banyak terjadi saat pelaksanaan program tersebut, meskipun sosialisasi telah dilakukan sebelumnya.
Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah, belum maksimalnya peran lintas sektor dalam mendukung program imunisasi.
“Ke depan perlu ada koordinasi yang lebih kuat serta keterlibatan lintas sektor seperti Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan pihak lainnya agar edukasi kepada masyarakat bisa lebih maksimal,” ucap Norimarna.
Sementara itu, terkait kesiapan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi dan menangani kasus campak, Norimarna menyebutkan, bahwa sepanjang tahun 2025 tidak terdapat kasus campak yang terkonfirmasi di Kota Ambon.
“Pada 2025 tidak ada kasus campak terkonfirmasi. Yang ada hanya kasus suspek yang tersebar di empat kecamatan, yakni Nusaniwe, Sirimau, Baguala, dan Teluk Ambon,” urai Norimarna.
Menurutnya, apabila ditemukan kasus suspek campak, fasilitas kesehatan akan melakukan pengambilan sampel serum untuk dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya atau Jakarta, karena pemeriksaan campak dan rubella belum dapat dilakukan di Ambon.
Untuk penanganan awal, pasien akan diberikan pengobatan simptomatik, termasuk pemberian vitamin A sebanyak dua kali sesuai dosis, serta menjalani isolasi mandiri. Kontak erat yang memiliki gejala juga akan mendapatkan penanganan serupa.
Dinas Kesehatan juga terus melakukan langkah deteksi dini melalui penyisiran wilayah dengan cakupan imunisasi campak yang rendah.
“Jika ditemukan anak dengan gejala demam dan ruam mukopapular, akan dilakukan pengambilan spesimen, pengobatan simptomatik, pemberian vitamin A, serta isolasi mandiri. Bila muncul komplikasi seperti demam tinggi, sesak, atau diare, maka harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit,” himbau Norimarna.
Kejadian luar biasa (KLB) suspek campak lanjut Norimarna, dapat ditetapkan apabila ditemukan lima atau lebih kasus dalam kurun waktu empat minggu berturut-turut yang terjadi secara berkelompok dan memiliki hubungan epidemiologi.
Peningkatan cakupan imunisasi serta penguatan deteksi dini terus dilakukan guna mencegah potensi penyebaran campak di Kota Ambon.(Mg-1)