AMBON, Siwalima.id - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan, penanganan sampah di kawasan Teluk Ambon, harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh stakeholder.
Pemprov juga terbuka dan membuka ruang kepada pihak manapun yang ingin berkolaborasi untuk membangun Maluku, termasuk dari negara asing seperti Swiss.
Apalagi bantuan tersebut menyangkut penanganan sampah di kawasan Teluk Ambon yang saat ini menjadi persoalan besar yang dihadapi Pemerintah Kota Ambon.
"Pemerintah provinsi tentu menyambut baik rencana pemerintah Swiss yang akan membantu kapal sea cleaner untuk membersihkan Teluk Ambon, apalagi dengan pendampingan selama 3 tahun,” ucap gubernur saat pertemuan bersama tim dari pemerintah Swiss terkait pemberian bantuan kapal pengangkut sampah yang berlangsung di ruang rapat gubernur, Kamis (20/11).
Gubernur mengaku, penanganan sampah di Teluk Ambon merupakan tanggung jawab pemkot, namun ruang laut Teluk Ambon berada pada kewenangan provinsi, sehingga pemprov dilibatkan dalam komunikasi awal.
Pengelolaan sampah di Teluk Ambon ini harus dilakukan secara komprehensif, termasuk dari sumber-sumber penghasil sampah, artinya jangan sampai kapal diberikan tanpa adanya kebijakan untuk membatasi sumber-sumber sampah.
"Sumber sampah ini kan berasal dari beberapa sungai besar, Pasar Mardika, Batu Merah dan juga kegiatan masyarakat dan usaha dalam teluk misalnya, kapal yang terparkir di Teluk Ambon. Artinya harus ada aturan pencegahan buang sampah dalam Teluk Ambon,” tandas gubernur.
Disisi lain kata gubernur, harus ada kebijakan pasca pengangkutan sampah dari Teluk Ambon, khususnya menyangkut pengangkutan hingga pengolahan sampah pada Tempat Pembuangan Akhir.
Pasalnya, tanpa ada kebijakan penanganan sampah di Teluk Ambon secara komprehensif, tentu upaya pemberian kapal akan menjadi sia-sia.
"Satu unit kapal mobula ini bagus untuk mengangkut sampah, tapi jika tidak ada kebijakan secara komprehensif maka akan sulit,” tutur gubernur.(S-20)