AMBON, Siwalima.id - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kesehatan kembali melakukan sosialisasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi masyarakat.
Program ini dianggap mudah, cepat, dan setara menjadi keunggulan yang dirasakan langsung oleh peserta di berbagai daerah, termasuk di Kota Ambon.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Harbu A. Hakim dalam rilisnya mengatakan edukasi ini penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait hak dan kewajiban sebagai peserta JKN.
“Program JKN merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan semangat gotong-royong,” ujarnya dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (30/3).
Ia menyebut hingga Desember 2025, tingkat kepesertaan JKN di Kota Ambon telah mencapai 98,65 persen.
Meski demikian, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan keaktifan peserta agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.
Di sisi lain, upaya memperluas akses layanan juga dilakukan hingga wilayah terpencil, salah satunya melalui pelayanan kesehatan bergerak menggunakan Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II di Kabupaten Kepulauan Aru.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang merata, terutama bagi masyarakat di daerah terti-nggal, terdepan dan terluar (3T).
Program JKN pun dinilai menjadi solusi penting dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi risiko biaya pengobatan yang tinggi dan tidak terduga.
“Program JKN sangat membantu dan memberi rasa aman. Kami berharap program ini terus berlanjut dan semakin baik kedepannya,” katanya.
Selain itu salah satu peserta, Florensia Molle (22) mengaku baru pertama kali menggunakan layanan JKN saat menjalani persalinan anak pertamanya.
“Saya hanya menunjukkan KTP, setelah itu langsung dilayani. Tidak ada perbedaan perlakuan meskipun saya peserta PBI,” ujar Florensia.
Ia juga mengaku bersyukur ka-rena seluruh biaya persalinan dan perawatan ditanggung oleh JKN yang dikelola BPJS Kesehatan.
Pengalaman serupa juga dirasakan Patima Tuharea, peserta JKN yang kini menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah di RSUD dr. M. Haulussy sejak Desember 2025.
Patima mengungkapkan, dirinya sempat ragu memeriksakan kondisi kesehatannya karena khawatir dengan biaya. Namun setelah mengetahui dirinya terdaftar sebagai peserta PBI, ia merasa lebih tenang menjalani pengobatan rutin. “Biaya cuci darah sangat besar, bisa lebih dari Rp10 juta per bulan. Dengan JKN, saya tidak perlu memikirkan biaya tersebut,” katanya.
Sementara itu, Johan Samu Samu (67), pasien dengan riwayat penyakit ginjal kronis, juga merasakan manfaat besar dari program ini.(S-25)