AMBON, Siwalima.id - Claris Fransiska Lali Neka, mahasiswi Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian angkatan 2022, tak kuasa menahan haru saat namanya dipanggil dalam prosesi wisuda periode April 2026.
Di momen tersebut, ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi S2 dari Wakil Ketua MPR RI, Dr Eddy Soeparno yang hadir untuk memberikan kuliah umum bagi para wisudawan Unpatti.
Lulusan SMA Negeri 3 Ambon ini mengaku, kesempatan tersebut tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan awalnya ia hanya ditunjuk untuk mewakili wisudawan menyampaikan pesan dan kesan.
“Saya kaget dan sangat bahagia, karena memang saya punya cita-cita melanjutkan S2 dan ingin menjadi dosen,” ungkap Claris kepada wartawan usai mengikuti proses wisuda periode April 2026 yang berlangsung di Audiotorium kampus Unpatti, Kamis (23/4).
Claris berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang orang tuanya sebagai buruh pada salah satu ekspedisi di Ambon dan sang ibu hanya sebagai ibu rumah tangga. Dengan kondisi ekonomi itu, sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA.
“Saya sempat berpikir untuk langsung bekerja. Tapi setelah berdiskusi, papa bilang sanggup membiayai kuliah saya, walaupun dengan keterbatasan,” ucap Claris.
Meski demikian, ia tetap berupaya mencari beasiswa. Melalui informasi di media sosial, Claris mendaftar program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Perjalanan mendapatkan beasiswa tidak mudah. Ia sempat harus membayar uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp3 juta menggunakan dana pribadi sebelum pengumuman beasiswa keluar.
“Saya sempat menangis karena merasa berat. Tapi papa tetap menyemangati untuk tetap saya lanjutkan,” tutur Claris.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tak lama setelah pembayaran UKT, ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa KIP Kuliah. Selama menempuh pendidikan, Claris mengandalkan beasiswa untuk biaya kuliah, sekaligus biaya hidup.
Ia menerima bantuan biaya hidup sekitar Rp5,7 juta/semester, diluar pembiayaan UKT yang ditanggung program.
“Dari semester satu sampai tujuh, semua kebutuhan saya ditanggung dari beasiswa,” tandas Claris.
Ia berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun. Selama kuliah, Claris juga aktif berorganisasi dan berprestasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Inkubator Bisnis serta berhasil memperoleh pendanaan proposal usaha sebesar Rp50 juta dari Dinas Pemuda dan Olahraga.
Menurut Claris, tantangan selama kuliah cukup besar, terutama dalam mengelola keuangan dan menjaga konsistensi belajar. Namun, dukungan orang tua menjadi kunci utama keberhasilannya.
“Yang penting kita yakin, tidak patah semangat, dan terus berusaha. Banyak beasiswa dari pemerintah, tapi kita harus mau mencari dan memperjuangkannya,” ujar claris.
Ia juga menekankan pentingnya memanjatkan doa dalam setiap usaha yang dilakukan, sebab jika berjuang tanpa doa, rasanya tidak lengkap,
Claris berharap, kisahnya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, untuk tetap berani bermimpi dan melanjutkan pendidikan.
Tawaran beasiswa S2 yang diterimanya menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dosen dan berkontribusi di dunia pendidikan.(S-25)