AMBON, Siwalima.id - Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Sinar, Jemaat Sinar Kudamati berkolaborasi erat dengan UPTD KPH Ambon untuk menggelar sosialisasi budidaya tanaman pekarangan.
Saat ini tantangan ketahanan pangan di Maluku masih bergantung impor sayur dan buah. Sebuah inisiatif brilian muncul dari lingkungan gereja. Sosialisasi ini tidak hanya edukatif, tapi langsung actionable dengan pembagian bibit gratis.
Pengurus AMGPM Cabang Sinar, perwakilan keempat ranting (termasuk ketua dan anggota aktif), perangkat pelayan gereja, serta puluhan jemaat dari berbagai usia begitu antusias.
Suasana penuh semangat, dengan diskusi hidup tentang bagaimana halaman rumah bisa jadi solusi nyata.
Maluku, dengan lahan terbatas dan iklim tropis, punya potensi besar untuk pertanian pekarangan. Namun, ketergantungan pupuk kimia sering kali merusak tanah dan kesehatan.
Sosialisasi ini hadir untuk mengedukasi kader AMGPM dan jemaat tentang teknik bercocok tanam organik yang benar, aman dan berkelanjutan. “Kita ajar mereka mandiri, tanpa bahan berisiko,” ungkap salah satu panitia.
Ia sosialisasi tersebut narasumber menjelaskan bagaimana peserta dapat memanfaatkan budidaya pekarangan yang ada.
Dalam laporannya, Ahli Kehutanan dari UPTD KPH Ambon, Rudy Ambeua, didampingi moderator Hany Wattimena, menyajikan pemaparan komprehensif.
“Kegiatan ini krusial bagi masyarakat Ambon,” katanya.
Rudy merinci manfaatnya secara mendalam dan pelestarian ekosistem dimana tanaman pekarangan menyerap karbon, cegah erosi dan ciptakan mikroiklim sejuk-penting di kota panas seperti Ambon.
Lanjutnya, kebutuhan pangan & gizi terpenuhi dapat menghasilkan sayuran segar (kangkung, bayam), buah (pepaya, jambu), rempah ( serai, jahe), bahkan ruang ternak kecil untuk ayam petelur.
Dengan begitu pendapatan keluarga meningkat dimana panen berlebih bisa dijual ke tetangga atau pasar lokal, tambah income hingga puluhan ribu per Minggu.
Selain itu dapat mendukung ketahanan pangan dimana dapat mengurangi impor, memberikan kestabilan harga bahan pokok, sejalan program pemerintah.
Dengan kualitas lingkungan baik juga dapat mengurangi sampah plastik dengan kompos organik, plus “apotik hidup” dari daun sirih untuk obat diare atau kunyit untuk anti-inflamasi.
“Lahan pekarangan yang idle bisa multifungsi untuk tanaman pangan, obat, bahkan rekreasi keluarga,” tambah Rudy, sambil tunjuk contoh sukses dari desa-desa di Seram,” jelasnya.
Inovasi Praktis
Rudy demonstrasikan langkah demi langkah dengan kumpulkan air cucian ikan segar (kaya nutrisi nitrogen dan fosfor). Isi ke jerigen bersih, diamkan 24 jam agar fermentasi alami mulai. Campur gula pasir (10 sendok makan per 5 liter air) sebagai pemicu bakteri baik.Tutup rapat, tunggu 3-5 hari hingga berbusa seperti tape sagu (tanda mikroba aktif).Encerkan 1:10 dengan air bersih, siram ke akar tanaman 1-2 kali seminggu.
“Hasilnya? Tanaman tumbuh 2x lebih cepat, daun hijau lebat, buah banyak-cocok untuk semua jenis, dari cabai hingga mangga!” klaim Rudy.
Pada kesempatan itu ia juga meminta para jemaat memelihara bumi. Bercocok tanam bukan sekadar hobi, tapi warisan untuk anak cucu.
Pada kesempatan itu juga, pihak UPTD KPH Ambon membagikan bibit lemon, gandaria, rambutan, mangga, plus varietas lokal ke Ketua Cabang Sinar Yondri Lalihatu.
Lalihatu kemudian memberikan bantuan tersebut kepada Pendeta. Robet Nara untuk dibagikan merata ke umat, pelayan dan perwakilan ranting. Setiap peserta pulang dengan bibit berakar siap tanam di pekarangan rumah.
Testimoni Peserta
“Ide pupuk ikan genius-mudah dan gratis!” seru seorang ibu rumah tangga. Sementara pemuda ranting bilang. Ia menyebut Ini gerakan gereja modern untuk isu lingkungan.
Kegiatan tersebut diprakarsai Bidang 2 Cabang Sinar, yang diketuai Gio Mailoa. “Bibit ini gratis selamanya. Ajukan permintaan ke UPTD KPH atau kami-dapatkan yang sudah berakar, tanam langsung! Rencana selanjutnya, workshop lanjutan dan kompetisi pekarangan terbaik Juni ini,” tutup Gio penuh semangat.
Ia menyebut inisiatif ini jadi model bagi jemaat lain di Maluku. (S-27)