AMBON, Siwalima.id - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa meresmikan Gedung Gereja Bukit Petra Jemaat GPM Lateri, Klasis Pulau Ambon Timur, setelah hampir sepuluh tahun lebih dibangun.
Peresmian gedung gereja ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh Ketua TP PPK, Maya Baby Lewerissa yang sebelumnya didahului dengan ibadah Minggu, (26/4).
HL sapaan akrab Gubernur mengungkapkan, pembangunan gedung gereja bukan sekadar bangunan fisik dari batu dan semen, tetapi akta iman dan bukti dari semangat membangun yang pantang menyerah, dari doa yang tak henti-hentinya, serta kerja gotong-royong yang dijiwai oleh kasih persaudaraan dan persekutuan yang saling menghidupkan.
Setiap pekerjaan pembangunan gedung gereja kata HL, pastilah memiliki kisah dan cerita yang unik dan berbeda termasuk pula Gereja Bukit Petra. Ini artinya walaupun dibangun pada areal ketinggian yang tidak terlalu ekstrem, tetapi pasti menghadapi tantangan pekerjaan fisik yang tidak mudah.
"Batu, semen, kerikil, pasir, besi semuanya dipikul oleh tangan-tangan umat Tuhan, dari jalan ke lokasi pembangunan. Ini bukan semata-mata kerja fisik, ini adalah ibadah yang hidup. Ini adalah kesaksian nyata, bahwa gereja bukan hanya soal bangunan, tetapi bagaimana persekutuan umat yang setia dan saling menopang dalam kebersamaan," ujar gubernur.
Perjalanan membangun selama lebih dari satu dekade ini, sejak peletakan batu pertama Desember 2015, menunjukkan bahwa pembangunan gereja ini bukanlah proses yang instan.
Sebaliknya adalah hasil estafet pelayanan para hamba Tuhan, para majelis jemaat, serta seluruh umat yang setia dari masa ke masa yang dimulai dari pencarian lokasi, peletakan dasar, hingga penyelesaian pembangunan, semuanya merupakan bukti nyata bahwa Tuhan bekerja melalui kesetiaan umat-Nya.
"Jemaat GPM Lateri dan panitia pembangunan telah menjadi saksi-saksi rohani yang telah menghidupi nilai-nilai spiritual yang sangat kuat yaitu iman, sehati dan korban tenaga. Dengan iman, jemaat percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang," tegasnya.
Disisi lain, pembangunan Gedung Gereja Bukit Petra menjadi simbol nyata dari warisan pela gandong dengan keterlibatan warga Negeri Mamala menjadi bukti persaudaraan sejati di Maluku, tidak dibatasi oleh perbedaan agama sebaliknya ini merupakan wajah Maluku sesungguhnya yang rukun, damai dan Maluku yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk bersatu.
"Di tempat ini, anak-anak akan bertumbuh dalam iman, remaja dan pemuda akan dibentuk menjadi manusia berakhlak mulia, dan orang dewasa akan terus disegarkan dalam kasih dan panggilan pengabdian," pungkasnya.
Gubernur menekankan keberadaan gereja yang kuat menjadi bagian penting dari upaya kita membangun par Maluku pung bae untuk Maluku yang lebih rukun, damai, religius dan bermartabat.
"Gereja bersama dengan agama-agama lainnya harus terus menjadi mitra pemerintah dalam membentuk karakter umat yang jujur, pekerja keras, dan peduli terhadap kema-juan bersama," tandasnya. (S-20)